Jangan Ada “Cumulonimbus” Politik di 2015

oleh
Primus Dorimulu

Oleh : Primus Dorimulu

(Pemred Investor Daily, BeritaSstu.Com, dan Suara Pembaharuan)

Tahun 2015 bukan tahun mudah bagi pemerintahan Jokowi dalam mewujudkan janji kampanyenya. Selain kondisi ekonomi global yang belum menentu dan ekonomi dalam negeri yang mengalami kelemahan struktural, tantangan terbesar datang dari Senayan. Jika mayoritas anggota legislatif tidak menunjukkan dukungan, bahkan menghambat, pemerintahan Jokowi akan kesulitan. Sikap anggota dewan yang asal tampil beda dengan pemerintah bakal menjadi awan tebal yang mengadang kapal besar bernama Indonesia ini.

Awan tebal berbahaya atau “cumulonimbus” mestinya sudah berlalu bersamaan dengan pemilu 2014. Meski pertarungan pada pemilihan presiden (pilpres) begitu sengit, kontestasi politik sudah selesai. Pemerintahan baru sudah terbentuk. Pihak yang belum beruntung tetap berpeluang untuk bertarung lagi pada pilpres 2019. Elite politik yang menguasai parlemen tidak boleh memposisikan diri sebagai penjegal semua kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan yang jelas-jelas menguntungkan rakyat.

Saat menghadiri APEC, 10 November 2014, Presiden Jokowi sempat mengajukan pertanyaan kepada Presiden RRT Xi Jinping tentang tiga kunci sukses Negeri Tirai Bambu itu. Tanpa basa-basi, Jinping menyebutkan tiga kunci sukses negaranya menggapai level kemajuan seperti sekarang. Kunci sukses pertama adalah partai yang bersatu. Dengan partai yanh bersatu, pemerintah tidak membuang energi untuk bertarung dengan sesama elite politik, melainkan bisa fokus pada pembangunan. Kedua, gagasan besar, mimpi besar, dan rencana besar. Sebagai negara dengan penduduk 1,4 miliar, terbesar di dunia, RRT harus menjadi pemimpin dunia, termasuk di bidang ekonomi. Ketiga, membangun infrastruktur transportasi yang menghubungkan kota dengan kota.

Indonesia tidak hanya belum siap di infrastruktur transportasi, melainkan juga infrastruktur energi, infrastruktur pertanian, dan infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi, infrastruktur kesehatan, dan infrastruktur pendidikan. Berbagai pembangunan infrastruktur ini membutuhkan dukungan parlemen. Para elite politik Indonesia tak boleh terlalu banyak bertengkar dan saling mencabik. Saatnya, para elite bangsa ini bersatu padu dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpi bangsa, yakni kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

RRT kini sudah menjadi salah satu negara di dunia dengan infrastruktur transportasi terbaik. Setiap kota dihubungkan oleh jalan raya yang lebar dan bagus. Presiden Obamma sempat mengungkapkan kekagetannya melihat jalan tol mulus antarkota dan bandara RRT yang tak beda dengan di negara-negara Barat. Pelabuhan laut RRT juga tidak kalah dengan Eropa. Dengan infrastruktur transportasi yang baik, pembangunan ekonomi RRT tidak berpusat di Beijing dan beberapa kota besar.

Dua dekade lalu, Indonesia di atas RRT. Saat ini, dengan pendapatan per kapita US$ 7.500, RRT sudah masuk karetegori upper middle income countries. Sedang dengan pendapatan per kapita US$ 3.500, Indonesia masih tersereok di lower middle income countries. Jika tidak ada perbaikan fondasi perekonomian, Indonesia beroptensi masuk middle income trap, yakni negara dengan pendapatan menengah bawah yang tak mampu naik kelas bahkan terancam turun ke level negara berpenghasilan rendah, low income countries.

Partai yang bersatu diakui Jokowi sebagai syarat yang sangat sulit untuk diwujudkan. RRT bisa dengan mudah mendapatkan partai yang bersatu karena yang berkuasa mutlak di negeri itu adalah Partai Komunis. Sedang Indonesia adalah negara demokrasi yang tengah mengalami perubahan. Namun, Indonesia bisa melihat contoh lain, yakni Korsel dan Taiwan, dua negara demokratis dengan ekonomi yang mantap seperti terlihat pada pendapatan per kapita yang di atas US$ 20.000.

Dalam lima tahun ke depan, berilah kesempatan kepada pemerintahan Jokowi untuk bekerja, mengemban amanat rakyat, merealisasikan janji politiknya. Kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat wajib dikritik, bahkan ditentang. Namun, kebijakan yang menguntungkan rakyat perlu didukung. Dalam iklim demokrasi yang sehat, pihak oposisi tidak asal tampil beda dan asal hajar. Karena sama-sama berpolitik untuk rakyat, semua langkah pemerintah yang baik untuk rakyat didukung oleh semua wakil rakyat.

Ini harapan kita sesuai demokrasi Pancasila yang kita anut. Demokrasi Pancasila mensyaratkan semangat gotong royong. Kendati tidak semua partai ikut dalam pemerintahan, semangat gotong royong tetap ada. Partai yang berada di luar pemerintahan tidak melakukan manuver politik untuk menghambat kebijakan dan program kerja yang dijalankan pemerintah. Sikap kritis dipertajam, namun bukan untuk menghambat pembangunan.

Semangat gotong royong kian dituntut karena pemerintahan Indonesia tidak hanya dijalankan oleh presiden, melainkan juga para gubernur dan bupati/wali kota yang berasal dari berbagai partai, termasuk partai yang tidak ikut dalam kabinet. Jika sebagian kepala daerah tingkat satu dan dua tidak mendukung kebijakan dan program presiden, kemajuan yang didambakan rakyat tidak akan terwujud.

Tahun 2015, Indonesia mengadapi head wind atau angin haluan, yakni kondisi ekonomi global yang kurang baik. AS bakal menaikkan suku bunga. Ekonomi Eropa masih slow down. Rusia teancam resesi. Pertumbuhan ekonomi RRT, raksasa ekonomi Asia, menurun. Dalam kondisi ini, ekspor Indonesia sulit didongkrak dan aliran modal ke Indonesia kemungkinan besar terhambat. Situasi global yang kondusif yang menjadi tail wind atau angin buritan selama 2010 hingga kuartal pertama 2013 sudah tak ada lagi. Dalam pada itu, mulai 2015, Indonesia dengan penduduk separuh Asean memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Dalam situasi ini, partai politik tidak boleh menjadi cumulonimbus, awal tebal dengan sambaran petir mematikan, yang bisa menenggelamkan, minimal menghambat kapal Indonesia yang tengah melaju. Walau kondisi global kurang mendukung, ekonomi Indonesia masih mampu bertumbuh 5,5-5,8% tahun 2015 asalkan pemerintah bekerja sungguh-sungguh dan ada dukungan politik yang kuat terhadap langkah pemerintah yang menguntungkan rakyat. Pasar dalam negeri dan jumlah usia produktif yang besar menjadi salah satu kekuatan Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, yang merata. Jika elite politik bersatu, tidak ada pihak yangb menciptakan cumulonimbus politik, ekonomi Indonesia bahkan bisa melaju di atas 7% selambatnya 2017.

Selamat Tahun Baru 2015!

*) Artikel ini telah dimuat di Suara Pembaharuan, 2 Januari 2015

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *