Ironi Seruan Mencintai Pangan Lokal

oleh
Ilustrasi (Foto: Kompas.Com)
Ilustrasi (Foto: Kompas.Com)

| KOEPANG.COM | Ironi Seruan Mencintai Pangan Lokal.  Bukan Jokowi namanya tanpa ‘manuver’ di setiap perjalanan tugasnya. Untuk kesekian kali Jokowi keluar dari konteks protokoler perjalanan tugas ke daerah. Tidak terkecuali NTT. Ketika ia menghadiri syukuran HUT NTT ke-56 sejatinya ia harus memotong tumpeng tetapi ia tidak lakukan. Ia malah buru-buru meninggalkan Rujab Gubernur NTT dan bergegas menuju Mota’in, tapal batas Indonesia dan Timor Leste.

Seperti yang dilansir Pos Kupang.Com (20/12/14), pemotongan tumpeng HUT NTT XVI oleh Presiden Jokowi telah diagendakan oleh panitia tetapi hal ini tidak dilaksanakan.

Rangkaian perayaan HUT NTT yang dihelat di rumah jabatan gubernur hanya diisi dengan sambutan-sambutan dan penandatanganan MoU. Sambutan pun hanya dua; sambutan gubernur NTT dan sambutan Presiden Jokowi. Setelah itu sesi penandatanganan MoU antara Gubernur NTT dengan Gubernur DKI, Ahok dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan Gubernur NTT.

Setelah acara sambutan penandatanganan, presiden dan rombongan langsung meninggalkan tempat acara dan menuju Motaain-Belu. Padahal, panitia telah menyiapkan tumpeng di sisi kiri podium. Dengan demikian acara pemotongan tumpeng pun batal dilakukan.

Kepada awak pers, Kabag Pers dan Kajian Pendapat Publik, Biro Humas Setda NTT, Viktor Manek menuturkan, pemotongan tumpeng tidak sempat dilakukan karena waktu yang singkat sehingga presiden akan segera menuju perbatasan RI-Tiles di Motaain-Belu.

‘Manuver’ Jokowi mengundang komentar seorang netizen, Giovanni Anflorsmor Gunar di status facebooknya.

Kita di NTT tidak punya tradisi menyajikan tumpeng dalam acara-acara tertentu. Lagian pemerintah provinsi selalu menggelorakan ajakan untuk mencintai pangan lokal. Nah, saat pak Jokowi datang, mengapa tidak disajikan panganan lokal NTT?

Kalau saja panitianya kreatif untuk membuat suatu jenis makanan tertentu dengan menggunakan bahan dasar beberapa makanan lokal NTT, mungkin Pak Presiden punya niat untuk menikmatinya. Tapi toh yang disediakan adalah tumpeng, jangan heran Pak Jokowi tidak potong tumpeng, selain karena alasan waktu yang mepet sebelum mengunjungi perbatasan RI – RDTL.

Lebih lanjut Gunar juga mempersoalkan seremonial penyambutan.

Begitu juga gemuruh drum band, padahal di Jakarta sana juga drumb band bukan tontonan langka. Tapi kita di sini, hampir setiap momen selalu menampilkan drumband, yang hanya mampu mengeluarkan irama bunyi yang sama. Tidak lebih. Mengapa tidak memilih untuk menampilkan tarian-tarian budaya yang ada di NTT, biar sasando tidak dinilai “tidur di rumah sendiri.

Pernyataan Gunar sejalan dengan adagium tua “dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Pepatah ini berlaku juga dalam perhelatan acara seperti ini. Pernyataannya mungkin ada benarnya jika memperhatikan sosok Jokowi yang sederhana dan unik. Jokowi mungkin sudah bosan dengan nasi tumpeng. Sejak kecil tradisi nasi tumpeng telah membudaya di masyarakat Jawa. Lantas, apa suguhan kuliner yang khas NTT? Mungkin itulah yang Jokowi nantikan. Toh, hanya Jokowi yang tahu mengapa ia ‘mengabaikan’ sesi pemotongan tumpeng.***(dari berbagai sumber)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.