Rica Melania: Tangkal Korupsi, Mulai dari Diri Sendiri dan Keluarga

oleh
Rini Djawa (Foto: Facebook.Com/RicaMelania)
Rini Djawa (Foto: Facebook.Com/RicaMelania)

| KOEPANG.COM | Rica Melania: Tangkal Korupsi, Mulai dari Diri Sendiri dan Keluarga. Secara tidak sadar kita telah menabur benih-benih korupsi dalam diri anak-anak sejak dini, demikian tutur Hendrica Melania Lame Djawa ketika membuka percakapan dengan Koepang.Com di Swiss Bell – Kristal Hotel (Kamis, 12/03/15).

Rini, sapaan sehari-hari, sosok yang tidak asing bagi awak Koepang.Com. Ia tandem diskusi berbagai isu gender. Mengetahui keberadaannya di Kupang, Koepang.Com menghubunginya untuk sekedar tukar pandangan berbagai topik sosial dan kesetaraan gender.

Kehadirannya di kota Kupang tidak lepas aktivitasnya di bidang sosial. Rini menjadi peserta pada kegiatan pelatihan TOT agen anti korupsi; Saya, Perempuan Anti Korupsi”, yang diselenggarakan oleh Badan Pemberdayaaan Perempuan Provinsi NTT bekerja sama dengan AIPJ (Australia Indonesia Partnership for Justice).

Korupsi adalah penyakit sosial akut yang mewabah di negeri ini. Dampak dari korupsi, menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat Indonesia. Dana pendidikan yang besar; 20% APBN yang dialokasikan, namun faktanya masih banyak sekolah yang belum memadai sarana prasarananya. Masih ada sekolah yang kegiatan belajar mengajarnya hanya 1 x dalam sebulan, karena ketiadaan tenaga guru, dan masih banyak masalah pendidikan lainnya.

Belum lagi jika kita lihat di bidang kesehatan; rumah sakit yang kekurangan obat, sarana puskesmas jauh dari memadai, dan lain-lain. Korban dari semua situasi ini adalah masyarakat. Harus ada kesadaran secara bersama untuk mencegah sikap, mental dan tindakan koruptif agar tercipta suatu tatanan kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang lebih baik.

Melihat koruspi semakin berurat akar ke seluruh strata birokrasi, KPK terus berupaya untuk menangkalnya melalui pendidikan politik dan hukum yang benar. Salah satu cara adalah pendidikan dan pelatihan agen anti korupsi bagi aktivis dalam masyarakat. Saya Perempuan Anti Korupsi, Desa Anti Korupsi, Kampus Anti Korupsi, dan pelatihan fasilitator perempuan anti korupsi adalah program-program untuk menangkal korupsi.

Yang menarik dari kegiatan ini, seluruh pesertanya adalah kaum hawa. Mereka adalah pegiat LSM, biarawati, dan anggota dan pengurus PKK dari seluruh kabupaten/kota lingkup Provinsi NTT. Koepang.Com, di sela-sela percakapan, menyentil soal peserta yang seratus persen perempuan. Apakah ini isyarat pemerintah tidak percaya lagi kaum adam? Karena perilaku atau praktek korupsi didominasi kaum lelaki? Rini pun membenarkan fakta itu tapi ia tidak menjadikannya alasan untuk kegiatan tersebut.

Ia menandaskan dua hal. Pertama, kaum wanita harus terbuka dan peduli terhadap semua isu – tidak terkecuali isu korupsi. Tidak pula terpaku pada isu gender. Korupsi merupakan masalah sosial. Karena itu perempuan harus keluar dan tampil terdepan dalam rangka memutuskan mata rantai penyebaran virus korupsi.

Kedua, keterpanggilan kaum hawa untuk menangkal korupsi lebih dini dan dimulai dari keluarga sendiri. Keluarga sebagai lembaga pendidikan mini yang memungkinkan orang tua untuk mengintrodusir anak-anak dengan berbagai nilai hidup dan tanggung jawab sosial.

“Untuk menangkal korupsi harus dimulai dari keluarga sendiri. Karena itu wanita harus ditingkatkan peran dan tanggung jawabnya. Secara kuantitas dan kualitas waktu ibu lebih dekat dan banyak dengan anak-anak ketimbang suami.” tangkas Rini, wanita asal Ngada ini.

Ia memandang keluarga memiliki peran vital untuk menangkal perilaku korupsi. Mind set dan pola pendidikan orang tua harus diubah. Selama ini orang tua terjebak dalam praktek korupsi yang tanpa mereka sadari. Hemat Rini, upaya perbaikan perilaku belumlah terlambat. Kuncinya, kemauan dan tekad dari orang tua.

Lebih lanjut, kepada media Koepang.Com, Rini membagikan pengalamannya dalam mendidik anak-anal terkait upaya menangkal perilaku korupsi sejak dini. Karena berbagai aktivitas di luar rumah, ia dan suami rela meninggalkan anak-anaknya. Pada situasi ini ia dan sang suami membangun kepercayaan anak untuk mengelola uang. Mereka meninggalkan sejumlah uang dan meminta anak tertua untuk mencatat pengeluaran. Sekecil berapa pun pengeluaran harus dicatat. Sekembali dari tugas mereka memeriksa dan mengevaluasi laporan sang anak. Ia mengakui hal ini bukan untuk membebani anak-anak dengan tanggung jawab besar melainkan untuk membiasakan diri anak-anak dengan pola hidup jujur dan tanggung jawab sejak dini.

Rini mengakui puas dengan kegiatan ini. Selain ia mendapatkan pengetahuan baru, para peserta – khusus dirinya – disadarkan dan diperkaya oleh para pemateri tentang tindakan korupsi yang dilakoni tanpa sadar dalam kehidupan berumah tangga. Misalnya praktek memberikan hadiah atau grafitasi kepada anak-anak jika mereka melaksanakan perintah orang tua.

Sukses atau tidak mengenalkan nilai dan budaya anti korupsi kepada anak-anak sangat ditentukan oleh kualitas dan integritas pendidik (orang tua) dan para penegak hukum.

“Dari diri sendiri dulu (orang tua, Red); membiasakan yang benar, stop membenarkan yang biasa namun salah. Lalu kepada anak-anak dan keluarga, baru keluar dari rumah, dengan komunitas dan masyarakat.” Pungkas pendiri dan pemimpin Yayasan Credamus ini.***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *