Eksotisme Pantai Ena dan Sinyalemen Tempat Pemandian Ratu Laut Selatan

oleh
Pantai Ena (Dok. Pribadi)

Seperti kebanyakan pantai selatan Flores, deru ombak keras. Gulungan ombak tinggi. Tak seramah laut utaranya. Lebih teduh. Gulungan dan hentakan ombak tak segemuruh pantai selatan.

Karakteristik alam pantai selatan memang berbeda dengan pantai utara.  Selain ombak yang disebutkan di atas, permukaan pantai tak selandai pantai utara. Bibir pantai curam. Tak banyak  bentangan berpasir. Lebih banyak bebatuan dari ukuran yang kecil (kerikil) hingga ukuran yang besar.

Namun  tak sulit menemukan spot-spot yang memiliki bibir pantai dengan bentangan pasir halus yang luas. Pantai Ena, Mauponggo, Flores, adalah salah satunya.

Ena, dalam bahasa lokal, artinya pasir. Bila diterjemahkan dilurus menjadi “Pantai Pasir”. Namanya pantai pasti berpasir. Lantas, mengapa masyarakat harus memberi nama “Ena” alias pasir lagi? Bukankah ini terjadi pendobelan makna yang sama pada dua kata yang berbeda bentuk ini.

Terhadap pertanyaan di atas, penulis tak punya jawaban yang pasti. Penulis pun tak menemui tokoh masyarakat untuk mengungkapkan historitas nama “Ena” ini. Penulis memiliki dugaan yang cukup kuat. Penentuan nama “Ena” merupakan ekspresi pribadi pencetus nama tersebut. Menggambarkan luapan emosinya kala menemukan pantai ini. Betap tidak! Karena kita sulit menemukan pantai yang ditaburi pasir halus sejauh ratusan meter dari Maumbawa hingga Mauponggo. Satu-satunya hanya ada di pantai yang terletak di Maukeo ini. Sementara pantai lain segaris dengan pantai Ena, pasirnya terbenam dibalik batu-batu kerikil  dan bongkahan batu besar yang setia menantang terjangan gelombang yang datang dari Samudera Indonesia. Sehingga kita sulit menemukan tempat pemandian yang senyaman  Pantai Ena ini.

Pantai Ena adalah salah satu destinasi bahari utama di Kabupaten Nagekeo. Berada tepat di perkampungan sawah Maukeo, yang berada di antara Maukeli dan ibukota kecamatan Mauponggo. Menghadap ke laut Sawu. Dibentengi tanjung atau bukit yang menjorok ke laut di sisi timurnya, sementara sisi barat sedikit terbuka atau hampir lurus dengan pantai Ena. Keadaan ini jadikan Pantai Ena menjadi pantai yang unik. Berpasir hitam diaburi manik-manik berkilauan kala ditimpah cahaya matahari.

Jika Anda ingin mencumbui eksotisme Pantai Ena, tak sulit menggapainya. Anda dapat menempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dari arah barat kota Bajawa atau dari arah timur turun lewat Gako – Boawae. Anda tidak saja disuguhkan oleh bibir pantai yang seksi. Laut Sawu nan membiru. Pepohonan yang menghijau sepanjang pembatas pantai. Pula perwasahan yang bertingkat-tingkat. Suasana alam terasa indah bak lukisan pabila Anda datang saat musim tanam. Tampak hijau seluruh area sawah. Mata dimanjakan. Disegarkan setelah melewati rutinitas. Tak kalah, keindahan pun tercipta kala  padi mulai menguning. Warna batang dan bulir-bulir padi  bak butiran emas.

Keindahannya menjadi sempurna ketika mata disilaukan dengan manik-manik di atas permukaan pasir. Ya, adanya demikian. Kata saudara yang menghantar saya ke tempat ini, Pantai Ena mengandung “pasir besi”. Ia sendiri belum membuktikan kebenaran pernyataanya. Fakta yang dilihat, benar adanya. Duhai indahnya!

Fasilitas di pantai ini terbilang memadai. Tersedia toilet dan kamar mandi, area parkir dan tempat sampah. Fasilitas dasar ini penting. Karena kawasan wisata harus bersih. Sanitasinya harus baik. Sampah-sampah tidak tercecer.

Saat kunjungan penulis, terbilang bersih meskiupun beberapa potongan sampah plastik dan dedaunan dan dahan pohon tampak tercecer di bibir pantai. Tapi tak banyak. Dapat dihitung dengan jari.

Pantai Ena memang indah. Tempat pemandian yang selalu dipadati pengunjung pada hari-hari libur. Tapi pengunjung tetap waspada. Ganasnya ombak di yang tampak di permukaan dan derasnya arus di bawah permukaan yang tak kelihatan menjadi ancaman serius. Karena pantai ini telah ‘menelan’ korban. Apakah ini terkait dengan mitos Ratu Laut Selatan? Pantai Ena menjadi salah satu tempat pemandian sang ratu? Entahlah….Tapi pengunjung tak perlu ragu jika memiliki sikap waspada dan menaati rambu-rambu dari petugas atau masyarakat setempat.

Pantai Ena adalah destinasi wisata yang komplit. Menggabungkan wisata bahari, pula agro wisata dan kuliner. Anda bisa dapatkan lebih di sini jika dibandingkan dengan pantai-pantai yang lain di Flores.

Selain dimata disejukan oleh pemandangan, pergumulan dengan ombak, pengunjung dapat menikmati kuliner khas seperti kelapa muda, pisang bakar dan lain-lain. Selamat datang di Pantai Ena. Salah satu tempat pemandian ratu laut selatan.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *