Dua Harapan Pada Wisata Air Terjun Oenesu, Kupang Barat

oleh
Air terjun Oenesu, Kupang Barat (Foto: Facebook.com/OozGobang)
Air terjun Oenesu, Kupang Barat (Foto: Facebook.com/OozGobang)

| KOEPANG.COM | Dua Harapan Pada Wisata Air Terjun Oenesu, Kupang Barat. Air terjun Oenesu terletak di daerah Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur, sekitar 30 menit dari Oepura. Bersama dengan ka Astyn Julian dan dua orang teman  yang bekerja di PT. Neo (Jago Aki), Oepura yaitu Ety Noy dan Fadjri, kami meluncur ke Oenesu dari meeting point kantor jagonya aki tersebut. Perjalanan kami diiringi derasnya hujan yang memaksa kami untuk berhenti berteduh.

Hujan tak menyurutkan niat kami untuk meng-explore keindahan air terjun tersebut. Bukan jalanan Timor kalau jalannya tidak berkelok-kelok, menanjak dan menurun. Jalanan yang seperti ini sudah menjadi makanan kami, haha… Sebelum ke Oenesu kami memutuskan untuk menyinggahi Pantai Tablolong yang ditempuh sekitar 20 menit dari Oenesu.

Memasuki kawasan pantai Tablolong, terlebih dahulu kami harus membayar tiket masuk untuk dua motor sebesar Rp 10.000,-. Jalanan menuju ke pantai Tablolong ini dipenuhi dengan batu karang, jadi kurangi kecepatan kendaraan anda ya.

Niat kami memang ingin mandi dulu di pantai ini, tapi kami urungkan niat ini karena pantainya banyak sampah. Sayang sekali, pengunjung belum sadar akan pentingnya kebersihan dan kelestarian pantai ini.

“Ini pantai kan bukan tempat pengumpulan sampah?”, Gumamku saat melihat sampah-sampah yang berserakan.

Kami melanjutkan perjalanan menuju ke ujung Tablolong, menjumpai beberapa cottage yang sepertinya tidak terawat. Ah abaikan saja, kita numpang parkir di tempat ini saja. Rupanya tempat ini dipenuhi oleh karang-karang.

Kami hanya mengabadikan beberapa foto saja di tempat ini, karena suasana hati sudah dirusak oleh pemandangan sampah. Saya melihat manusia menikmati keindahan alam karya Tuhan, tapi saya juga melihat manusia yang dengan bangganya merusak keindahan itu dengan membuang sampah tidak pada tempatnya. Miris.

Kekecewaan akan sampah di tempat ini memacu kami untuk segera menjejakan kaki di Oenesu. Berpacu dengan kecepatan rata ±80km/jam, kami menuju air terjun Oenesu. Jalanan menuju ke air terjun cukup parah, terdapat banyak lubang yang bisa membahayakan pengendaranya.

Seperti biasa harus bayar tiket masuk dulu untuk dua motor yaitu Rp 10.000,-. Ternyata kami adalah pengunjung terakhir di air terjun ini. Syukurlah, paling tidak kami punya banyak kesempatan untuk menikmati kesegaran air terjun ini.

Pengunjung harus menuruni tangga-tangga yang sudah dibangun untuk menuju ke air terjunnya. Sebelum turun, Fadjri ingin sholat terlebih dahulu. Sayang sekali toilet tempat wisata ini tidak memiliki air padahal lokasinya banyak air. Fadjri yang akan sholat terpaksa langsung mengambil air wudhu di bawah air terjun.

Ketinggian air terjun ini hanya sekitar 4 meter. Saat musim kemarau debit air akan menurun, dan meningkat ketika datang musim hujan. Air berwarna cokelat di saat musim penghujan tiba. Terdapat dua curug, sebelah kiri dan kanan. Saya lebih tertarik dengan curug di bagian kanan, terlihat lebih menawan dengan beberapa stalagmit dan stalagtit, dan batu-batu besar yang menambah ketampanan air terjun ini. Bersuka hati bermain di bawah derasnya tempaan air terjun untuk merasakan pijat refleksi alami agar hilang semua pegal dan lelah di badan.

Usai bermain air, kamipun bergegas kembali ke Oepura. Sayangnya, kami tidak bisa membilas karena ketidaksediaan air bersih dalam kamar mandi umum.

Harapan penulis, tempat wisata Air Terjun Oenesu bisa dilirik dan menjadi perhatian oleh pemerintah setempat melalui dinas terkait, setidaknya fasilitasnya disediakan demi kenyamanan pengunjung.  Jalanan tidak berlubang lagi agar pengunjung tidak merasa seperti terombang-ambing dalam gelombang. Ini jalanan wisata ke air terjun kan bukan wahana roller coaster? ***(Ooz Gobang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *