Dogma Teologis vs Kehidupan Beragama

oleh

KOEPANG.COM – Setiap tahun kita berdebat topik yang sama. Haram dan tidak ucapan atau salam natal. Dalil-dalil hukum agama dikeluarkan dalam kazanah debat ini.

Polemik ini menjadi sajian wajib akhir tahun. Ramai diperbincangkan. Kesan yang ditimbulkan, polemik ini terus dipelihara dan didaur ulang oleh pihak tertentu. Pada akhirnya, karena perbedaan pandangan, rakyat Indonesia menjadi terpecah belah atas dasar agama.

Setiap ajaran agama memiliki kitab suci dan dogma. Kebenaran kitab suci dan dogma agama yang satu tidak bisa mendominasi atau memgeliminir isi kitab suci dan dogma agama yang lain. Sikap yang mulia adalah menghargai perbedaan itu. Tidak pula untuk menyamakannya.

Kita tidak bisa terus memperdebatkannya. Hanya buang waktu dan tenaga. Toh, sampai kiamat pun kita tidak dapat menyatukan perbedaan itu. Hakekat keberagaman itu semenjak dari sananya. Adanya manusia ini. Tidak berarti kita tidak bisa hidup rukun karena keberagaman.

Perdebatan haram tidak salaman natal tidak serta merta memupuskan kerukunan umat beragama di NTT. Friksi karena perbedaan pandangan tentang dogma tidak mengikis nilai persaudaraan antar umat beragama di NTT.

Halal bihalal dalam momentum natal di NTT berjalan normal. Umat muslim menyalami umat kristen. Demikian sebaliknya pada hari raya umat muslim. Umat kristen menyalami umat muslim. Itu tradisi kehidupan umat beragama di NTT.

Ada kaum muslim yang salami keluarga kristen yang merayakan natal dan menikmati hidangan yang disajikan. Ada pula yang datang salaman tetapi tidak mencicipi hidangan. Apakah tuan rumah tersinggung? Tidak! Tuan rumah semakin paham dengan keyakinan saudara umat beragama yang lain. Kunci saling pengertian dan memahami. Berpikir positif. Tetapi kedatangannya sudah sangat bermakna. Lebih bermakna daripada urusan makan-minum.

Mungkin berbicara salaman natal bersifat tahunan dan menyentuh erat dengan wilayah keimanan seseorang. Tetapi, bagaimana kehidupan nyata di masyarakat selain pada hari raya keagamaan?

Orang NTT aman-aman saja. Ada atau tidak fatwa, mereka sudah saling paham. Misalnya keluarga muslim yang datang maka tuan rumah akan melayani dengan tata cara muslim. Hewan disembelih oleh saudara muslim. Perkakas, tempat memasak, dan lain dipisahkan-jika ada menu atau masakan yang diharamkan umat muslim.

Orang pasti akan tercengang menghadiri pesta di NTT. Setiap kali ada pesta, tuan pesta (kaum kristen) selalu menyediakan 2 menu makanan. Menu umum, yakni dapat dikonsumsi oleh sebagian besar undangan. Biasanya daging babi atau daging anjing. Sedangkan menu khusus, bagi kaum muslim yang berkesempatan hadir pada pesta tersebut atau kaum kristiani yang karena alasan kesehatan atau adat. Kaum muslim menghargai tuan pesta dengan menyicipi hidangan khusus yang tersedia. Seandainya saja kaum muslim (tamu, Red) berpikir negatif atau curiga dengan tuan rumah, mereka tidak akan datang dan menikmati hidangan tersebut.

Realitas ini memang sulit dibahas secara teologis. Satu hal yang dipelajari di NTT, sikap saling percaya atau tidak saling curiga. Tanpa sikap itu maka kerukunan dan kekerabatan di NTT mustahil terwujud.

Pada akhirnya debat teologi harus menyentuh atau melihat realitas. Keadaan itu menjadi sulit dalam lingkungan yang heterogen. Karena di NTT hubungan pertalian saudara atau keluarga lebih dahulu daripada kedatangan agama. Jangan heran kalau kita menjumpai kaum muslim dan kristian di Flores dan Alor sangat rukun. Karena mereka sedarah dan sedaging. Perbedaan keyakinan tidak memisahkan satu dengan yang lain. Sikap saling hormat dan percaya menjadi modal awetnya kerukunan di NTT. ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.