Di Puncak Kelimutu: Wisatawan Asing Memuji Messi, Mengabaikan Maradona

oleh

Di Puncak Kelimutu: Wisatawan Asing Memuji Messi, Mengabaikan Maradona | KOEPANG.COM | Pada 1992, puluhan tahun lalu saya pernah berada di tempat ini. Kelimutu. Menemani pasutri dari Jerman. Kala itu kami menginap di Sao Wisata Resort Moni. Pukul 05.00 pagi  sebuah “oto kayu” – istilah masyarakat Flores untuk truck kayu menghantar kami ke kawasan Taman Nasional Kelimutu.

Hawa dingin menyengat. Deru “oto kayu” mengusik tidur masyarakat di desa Kampung Waturaka. Kokokan jago mengirim roda oto kayu yang terus dipacu menuju puncak Kelimutu.  Karena dinginnya hawa, pasutri tersebut memberikan baju ‘switer’ untuk saya.

Tubuh terasa hangat tapi bukan karena switer yang saya kenakan melainkan semangat yang menyala dalam raga dan jiwaku. Karena menggapai puncak Kelimutu adalah impian masa kecilku. Impianku dipenuhi oleh pasutri itu.

Semangat itu tidak pernah pudar. Keinginan dan kerinduan itu terpatri. Karena jiwa travellingku tak pernah mati meski kondisiku begini adanya. Ketika kesempatan itu datang, saya mengajak Ansel, teman  kantor yang sedang bertugas di Flores, mengunjungi Kelimutu untuk kedua kalinya pada 09 September 2017.

Bersama Ansel menikmati Pop Mie sebelum menuju puncak Kelimutu

Perawakan Kelimutu banyak  berubah. Gerbang masuk memiliki gapura nan megah. Jalan raya jauh lebih baik pada kunjungan pertama. Jalan beraspal bahkan sedang diperlebar dari pintu masuk Moni. Setiap tikungan terpasang cermin cembung yang dapat membantu pengendara melihat kendaraan yang datang dari arah berlawanan. Area parkiran ditata lebih baik dan lapang. Tersedia pula lopo, layanan informasi dan kantin.

Dari area parkiran, pengunjung harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 1-1,5 kilometer. Tersedia pilihan, pengunjung dapat melewati tangga atau jalan yang dibiarkan alami tanpa lapisan aspal. Sementara di beberapa jalan tersedia tugu informasi yang dibuat dari perpaduan batu dan kaca. Tersedia pula bangku atau ‘shelter’. Pepohonan pinus berdiri kekar di beberapa ruas jalan. Gesekan dedaunannya menimbulkan bunyi-bunyian khas swara alam pegunungan.

Penulis beristirahat dan menikmati hembusan angin pegunungan nan sejuk

Saat kami datang meskipun siang hari puncak Kelimutu dipadati wisatawan domestik. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa daerah. Terangkap pendengaran, ada yang bertutur bahasa Lamaholot, bahasa Lio, bahasa Sikka, dan beberapa ragam bahasa lain. Hal ini menimbulkan keinginan tahuan saya dan bertanya kepada seorang wanita, pengunjung yang mengaku berasal dari Mbay.

Kok, hari ini banyak sekali pengunjung dari Flores Timur, ya?

Ya, pak. Kemarin ada wisuda di Unflor sehingga kesempatan mereka untuk jalan-jalan.

Sampai di puncak Kelimutu, saya menjumpai beberapa wisatawan asing. Mereka berdecak kagum karena saya mampu melampui tangga nan terjal. Saya membalas dengan senyum dan nyelutuk.

I love travelling.

Saya sempat bercakap-cakap dengan dua orang wisatawan asal Argentina. Dialog bermula saya menanyakan asal mereka dan kemudian saya menyatakan bahwa Argentina adalah Timnas favorit pada ajang Piala Dunia. Perbicangan menjadi hangat dan akrab ketika saya menyebut Lionel Messi, Diego Maradona dan Gabriel Omar Batistuta. Mereka adalah pemain idola saya.

Pria itu sangat mengagumi Messi karena kepribadiannya. Ia adalah sosok yang baik. Memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk anak-anak di Argentina. Ketika saya mengulang sebut nama Maradona, pria tidak simpatik karena kehidupan Maradona yang suka hura-hura dan mabuk-mabukan. Hal ini dapat memberikan efek yang buruk bagi anak-anak di Argentina. Meskipun Messi tidak berprestasi sehebat Maradona, ia tetaplah pribadi yang baik, rendah hati dan berjiwa sosial. Ia menjadi inspirator bagi anak-anak di Argentina.

Di bibir kawah Ata Polo

Dialog berakhir. Mereka pamit dan menuruni tangga. Sebelum berpisah, kedua pria itu menyampakan salam pisah dalam bahasa Spanyol.

Cao-cao.

Sementara kami terus berada di puncak. Tak henti-hentinya memotret Danau Kelimutu dengan berbagai ‘angle’. Tak lupa pula kami meneguk kopi jahe yang dijajakan pedagang di tangga tugu sebelum turun tangga nan curam dan menuju kawah Ata Polo.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *