Di Bawah Kepakan Sayap Garuda di Wini – Lintas Batas Indonesia dan Timor Leste

oleh
Berpose di Patung Burung Garuda PBLN Wini - TTU (Foto: Dok. Pribadi)
Berpose di Gerbang Masuk PBLN Wini – TTU (Foto: Dok. Pribadi)

Langit kota Kefamananu cerah meskipun larik-larik matahari terhalau gumpalan mega. Hawa kota pun adem. Suam-suam kuku. Suasana yang terasa kala kami hendak mengawali perjalanan ke Wini. Meninggalkan Hotel Ariesta tempat menginap dan melaksanakan kegiatan tiga hari lamanya.

Kecerahan langit Kefamananu tak berlansung lama. Cahaya matahari semakin lama semakin redup. Langit biru berubah abu-abu. Diselimuti mendung pertanda hujan tak lama lagi.

Suasana alam yang berubah tak menyurutkan tekad kami mengunjungi Wini. Sebuah “kampung” yang bakal menjadi kota pelabuhan  yang berhadapan langsung dengan Selat Timor. Siapa sangka Wini yang “terisolir” menjadi sorotan dunia. Karena Wini berada di garda terdepan dalam sudut pandang negara tetangga – Timor Leste.

Waktu tempuh Kefamananu ke Wini kurang lebih 1,5 jam. Jalan pun tidak selebar jalan trans Timor. Jalan mulus dan berkelok-kelok. Berapa ruas jalan rusak ringan – masih mudah dilewati. Turun-naik bukit.   Melintasi pebukitan sepi. Mata anda pasti disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Bukit-bukit bergelombang. Tumbuhan khas tropis. Tak jarang pula padang sabanah yang mulai menghijau setelah dibasahi hujan beberapa hari terakhir.

Mencapai Wini kami melewati beberapa kampung. Tak semua nama kampung tersimpan di memori penulis kecuali Menamas. Kampung terakhir sebelum masuk Wini. Itupun kami harus mampir di rumah mertua sahabat kami, Maxi Teme.

Dari Menamas, 10 kilometer lagi sampai Wini. Melewati pegunungan batu-batu cadas sejauh 10 kilometer. Berwarna hitam pekat. Kami merasa berada di negeri lain yang tiada duanya indahnya ketika melewati celah dua barisan pegunungan ‘batu’  sebelah menyebelah.

Akhirnya tiba di Wini. Melewati pelabuhan menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Jalan sangat lebar. Dibuat dua jalur. Layaknya jalan-jalan di kota besar. Setiba di gerbang PBLN tampak gapura nan megah. Terulis di INDONESIA. Gedung megah di belakangnya. Tampak jauh bukit hitam membenteng PLBN kedua negara ini.

Kemegahan PLBN Wini tak tertandingi gedung-gedung di NTT kecuali PBLN lain seperti Motaain dan Motanmasin. Tata letak gedung sangat rapih. Kesan mewah saat kita memijakan kaki di dalamnya. Petugas di loket menyambut ramah. Menyodorkan buku tamu yang harus kami isi. Lalu memberikan tanda pengenal kepada semua kami.

Berpose di Patung Burung Garuda PBLN Wini – TTU (Foto: Dok. Pribadi)

Kami abadikan setiap jengkal moment kala berada di kompleks ini. Semuanya layak menjadi pemanis latar keberadaan kami. Kami melangkah ke belakang melewati sisi gedung besar yang merupakan semacam terminal “keberangkatan” dan “kedatangan” di sebuah bandara internasional. Tepat di belakang gedung terdapat patung burung garuda yang menghadap ke arah PLBN Timor Leste. Di bawahnya tertulis “WINI INDONESIA”.

Pikiranku terbawa pada jargon “Garuda di Dadaku”. Seperti itulah yang saya rasakan saat berdiri di depan patung ini. “Garuda di dadaku, “celetuk di bathinku kala itu.

Bantuan seorang ibu, mantan pegawai Dinas Pendidikan Provinsi NTT yang telah beralih status sebagai pegawai PBLN, kami dimediasi dengan petugas keamanan yang dijaga prajurit  TNI. Seorang prajurit PM bersedia mendampingi kami masuk wilayah Timor Leste. Kami melewati jembatan kali mati yang menjadi pembatas Indonesia-Timor Leste. Beberapa saat kami foto di tugu lintas batas negara Timor Leste. Dari wilayah Timor Leste, kami kembali kompleks PBLN dikawal prajurit yang ramah itu.

Kami menaiki tangga menuju lantai 2 gedung PLBN. Kesan yang timbul adalah gedung ini sangat mewah. Fasilitas di dalam layak di bandara-bandara bertaraf internasional. Kami sempat berbincang-bincang dengan para pegawai PLBN. Banyak informasi yang kami dapatkan perihal PBLN ini. Termasuk cerita mereka soal tunjangan “kesepian” yang membuat kami tertawa dengan nomenklaturnya.

Tugu pos jaga Timor Leste (Foto: Dok. Pribadi)

PLBN Wini sedang dalam tahap pembangunan. Mall dan mes pegawai akan dibangun di sisi kiri gerbang masuk. Standar infrastruktur sama seperti pada PBLN yang lain.  Ukuran dan ciri aristektur yang berbeda. Dikondisikan dengan karakterstik wilayah PBLN itu berada. Wini misalnya mengangkat nuansa alam. Karena pada sisi gedung tampak tembok mengandung unsur batu-batuan berwarna coklat.

PBLN Wini memang tak seramai  PBLN Motaain. Kondisi masih dimaklumi. Pelintas batas tidak sebanyak di PBLN tersebut. Belum lagi, PBLN Wini masih dalam proses perampungan dan belum diresmikan oleh presiden Jokowi. Bukan tak mungkin kelak PLBN Wini akan menjadi salah daya tarik wisata baru di pesisir utara Pulau Timor. Belum lagi ditunjangi oleh hamparan Laut Timor dengan barisan bukit di Tanjung Bastian. Anda pasti tak akan menyesal kala memijakan kaki di sini.

Salut saya kepada bapak presiden Jokowi telah menjadi wilayah-wilayah perbatasan sekolah ibukota. Gedung-gedung megah. Tampakan jati diri bangsa. Bahwa perbatasan adalah wajah Indonesia dari sudut pandang negara tetangga. Obrigado Jokowi.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *