Dengar Sambutan Natal Jokowi, Sakitnya Tuh di Sini!

oleh

Kupang, KOEPANG.COM – Dalam rentang waktu satu tahun kepemimpinannya sebagai presiden, Joko Widodo telah melakukan tiga kali kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur. Kunjungan ketiga pada penghujung tahun 2015 dengan beberapa agenda penting antara lain peresmian gedung terminal bandara Komodo, peresmian PLTS di desa Oelpuah, Kabupaten Kupang, peresmian Waduk Rotiklot, Kabupaten Belu, dan perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional sebagai penutup rangkaian kunjungan kerjanya di Nusa Tenggara Timur.

Natal tahun ini menjadi pengalaman istimewa baik bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Untuk pertama kali perayaan natal berkelas nasional dirayakan di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur dan dihadiri oleh presiden RI.

Terselenggaranya Perayaan Natal Nasional di Kupang berkat ‘manuver’ Jokowi yang mengalihkan secara tiba-tiba Kupang sebagai tuan rumah. Sebelumnya telah dicanangkan Manado sebagai kota penyelenggara perhelatan akbar ini. Manuver di tengah jalan menampilkan sosok yang tidak mudah ditebak arahnya tetapi ia selalu membuat orang terkagum-kagum padanya.

Dalam sambutan Jokowi menekankan Natal sebagai momentum perubahan bagi Bangsa Indonesia dan NTT khususnya.

“Merayakan Natal berarti menjalankan revolusi karakter, revolusi mental. Karena inti dari revolusi karakter dan mental adalah menjadi manusia baru yang lebih disiplin, lebih produktif, lebih optimistis dan lebih bekerja keras,” ujar Jokowi seperti dilansir Harian Timor Ekspress.

Lebih lanjut Jokowi menambahkan, “Jangan sampai Natal hanyalah seremonial belaka tanpa perubahan sikap mendasar.”

Selain itu Jokowi melansir pesan Paus Fransiskus, “Natal tanpa pembaharuan dan perubahan perilaku hanyalah sekadar sandiwara. Natal harus membawa komitmen kepada bangsa dan negara.”

Bukan secara kebetulan pada natal kali ini, Jokowi menyerukan revolusi mental dan revolusi karakter di hadapan umat Kristiani dan tamu undangan Perayaan Natal Tingkat Nasional di Kupang. Karena pada dasarnya peristiwa natal sendiri adalah momentum Revolusi Rohani yang dilakukan oleh Yesus sendiri, yaitu penjelmaan Putra Allah sebagai manusia. Secara mental dan karakter, Yesus telah menjewantahkan diri-Nya di kandang papa. Menjadi pribadi yang rendah hati dan sederhana. Menjadi sosok atau pribadi yang datang untuk melayani. Bukan pribadi dilayani!

Lebih dalam, pernyataan Jokowi hendak mengetuk pintu kesadaran kita. Apakah kita sudah memiliki mental dan karakter yang benar? Mentalitas melayani sesama melalui tugas dan pelayanan kita masing-masing. Karakter mengampuni dan mengashi sesama. Ataukah kita jadikan natal sebagai momentum untuk kumpul uang dan harta sebanyak-banyaknya? Memeras keringat orang kecil untuk memperkaya diri? Ataukah, natal sekedar panggung sandiwara atau drama?

“Kita harus kerja keras. Kita bekerja, kita mendapat hasil. Indonesia harus semakin makmur, Indonesia harus sejahtera, Indonesia harus damai dan Indonesia harus penuh suka cita,” ujar Jokowi.

Pernyataan di atas menjadi sebuah seruan-reflektif bagi masyarakat NTT khususnya – terutama para pemimpin, birokrasi, dan para politisi. Apakah mereka sudah bekerja sungguh-sungguh?

Jika kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh dan benar, seharusnya, NTT sudah lepas atau bebas dari berbagai stigma negatif seperti provinsi korup, miskin, dan busung lapar. Mendengar kata-kata Jokowi pada sambutan pada Perayaan Natal Tingkat Nasional tahun ini, rasa-rasa sakitnya tuh di sini! Menohok uluh hati. Malu. Sadar diri kerja belum maksimal.*** (Sumber Foto: JPPN.Com)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.