Datanglah ke Alor, Nikmati Daging Rusa Super Lezat

oleh
Ilustrasi (Foto: Travellingguide.com)
Ilustrasi (Foto: Travellingguide.com)
Ilustrasi (Foto: Travellingguide.com)

| KOEPANG.COM | Datanglah ke Alor, Nikmati Daging Rusa Alor Super Lezat. Penasaranku tentang Alor adalah tentang rusa. Berbagai mulutgram menyerbarkan informasi bahwa daging rusa Alor sangat lezat. Tidak salah, Alor menjadi daerah tujuan wisata kuliner yang paling diminati penikmat omnivora.

Selain buah kenari dan keindahan bawah lautnya, Alor memiliki populasi rusa yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan wilayah lain di Nusa Tenggara Timur.  Rusa Timor  (Cervus Timorensis) semakin punah. Semenjak saya menetap di daratan Timor, saya pun belum pernah melihatnya. Di Alor, anda dapat melihat rusa seperti halnya anda melihat kerbau atau sapi di pekarangan. Rusa menjadi hewan ternak. Bukan lagi satwa liar di hutan belantara.

Pulau Rusa memiliki habitat rusa. Ada nuansa magis. Untuk bisa melihat ribuan ekor rusa, pengunjung harus didampingi oleh pemandu lokal. Kita tidak akan menemukan ribuan rusa, jika kita berangkat sendiri.

Lupakan tentang Pulau Rusa.  Di daratan Pulau Alor pun kita dengan mudah mendapatkan satwa lincah ini di rumah-rumah penduduk. Tepatnya, di Mebung, 5 km ke arah timur dari kota Kalabahi. Kita tidak sulit ke sana. Karena Kalabahi hanya memiliki satu-satunya jalur utama yang melintas sepanjang pantai. Sebelahnya bentangan bukit bagaikan benteng alam yang melindungi ibu kota Nusa Kenari.

Sebuah kawasan penangkaran rusa milik pemerintah seluas dua kali luas lapangan bola kaki. Adalah bapak Ans Takalapeta, mantan Bupati Alor yang merintis tempat penangkaran ini. Beliau menyadari bahwa satwa rusa akan terancam punah karena perburuan liar dan pembukaan lahan kebun sehingga habitatnya semakin sempit. Rusa-rusa semakin terusik.

Pada masa kepemimpinannya, rusa-rusa di sini tumpah ruah. Tetapi sekarang hanya tersisa empat atau lima ekor yang berseliweran (cerita teman) di lokasi. Ketika penulis menyambangi lokasi penangkaran di Mebung tidak tampak seekor rusa pun di sana. Rusa-rusa mungkin sedang mencari makan di luar penangkaran. Tetapi, kita tidak usah berputus asa jika jika bertekad untuk melihat rusa Alor dari dekat. Tanyalah penduduk di sekitarnya. Beberapa rumah penduduk tak jauh dari lokasi penangkaran yang bermatapencaharian sebagai peternak rusa. Salah satunya, bapak Ape. Pada saat saya dan Anis, sahabat yang saya kenal di Alor, bapak Ape sedang tidak berada di tempat. Atas ijin istrinya, saya diperbolehkan untuk mengambil foto di sekitar kandang rusa milik mereka.

Ketika saya berjalan mendekati pintu kandang, tatapan rusa-rusa penuh curiga. Lehernya mendongak. Beberapa di antaranya lari berhamburan menjauh. Meskipun dengan penuh rasa takut, kondisi ini tidak mengurungkan niatku. Atas bantuan, Anis, saya bisa narsis juga di depan kandang rusa ini.

Saya merasa kurang tertantang kalau belum pose bareng rusa secara dekat. Lalu terbersit untuk masuk ke dalam kandang. Tetapi kami minta ijin lebih dahulu kepada istri bapak Ape.

Istri bapak Ape menjelaskan babwa rusa tidak suka dengan warna merah. Saat itu saya memang mengenakan baju warna merah. Pantasan saja rusa-rusa lari berhamburan. Saya bergegas mencobot dan meninggalkan baju dalam (kaos) yang berwarna hitam. Sesudahnya saya masuk ke dalam kandang sambil membawa sejumput daun lamantoro (petai). Rusa tetap menjauh dan lari berhamburan. Kata ibu Ape, rusa-rusa sangat peka dengan bau badan manusia. Ya, mereka terlanjur mencium bau badan saya meskipun saya berganti kostum. Tega nian rusa-rusa ini. Padahal saya sudah menyapa mereka manis, manis, manis (mengekor ibu Ape). Hanya seekor rusa betina yang sedang bunting berusaha mendekat tetapi masih malu-malu dan takut.

Usaha peternakan ini dirintis oleh bapak Ape berawal dari seekor rusa betina yang ditemukannya di hutan. Rusa ini dikawinkan dengan penjantan dari tetangganya yang memiliki usaha serupa. Hingga kini rusa tersebut telah berkembang biak hingga puluhan ekor. Rusa-rusa ini menjadi sumber kehidupan ekonomi keluarga ini. Salah satunya sumber pendapatan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Bapak Ape memang tidak bersusah payah untuk memasarkannya. Karena Pemda Alor dan beberapa hotel di Kalabahi selalu memesan rusa dari tempat bapak Ape ini. Daging rusa memang daging yang paling lezat dan empuk. Tidak heran Pemda Alor selalu menjamu tamu-tamu pemerintah dari luar Alor dengan menu khas ini.

Memindahkan habitat rusa dari hutan ke kandang memang kurang tepat. Kehidupan rusa menjadi terkungkung. Rusa tidak hidup secara alamiah. Apa boleh buat? Satwa lincah ini semakin menurun populasinya. Daripada rusa mati dan punah oleh karena aktivitas perburuan liar, langkah ini terbilang tepat untuk menjaga kelestarian rusa Alor. Pendapatan ekonomi masyarakat pun meningkat. Seperti kata ibu Ape, keluarganya mampu membiayai pendidikan anak-anaknya dari hasil ternak rusa ini.

Mari kita belajar dari Alor.  Ingat Alor, ingat rusa. Daging rusa Alor memang super lezat. Meskipun penulis tidak sempat menyantapnya, cerita orang-orang cukup mampu membuat air liur saya meleleh.***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *