Dampak Positif Pariwisata bagi Masyarakat Lokal

oleh

Oleh : Primus Dorimulu

KOEPANG.COM – Ketika Tour de Flores (TdF) menggema, ada pihak yang bertanya, “Apa dampak pariwisata bagi rakyat Flores dan NTT? Jangan-jangan, pariwisata membuat orang Flores dan NTT makin melarat.” “Oh, dampak positif, TdF dan pariwisata Flores tergantung pada respons pemda dan rakyat setempat,” jawab saya.

Masyarakat lokal akan mendapatkan dampak positif dari kegiatan pariwisata jika bahan makanan dan makanan jadi yang dibeli hotel, restoran, dan wisatawan berasal dari daerah setempat. Paling tidak, sebagian besar bahan makanan dan makanan jadi yang dikonsumsi wisatawan dipasok oleh masyarakat setempat.

Masyarakat lokal akan mendapatkan dampak positif dari kegiatan pariwisata jika suvenir yang dibeli pelancong berasal dari masyarakat setempat. Paling tidak, sebagian besar suvenir yang dijajakan di toko-toko berasal dari penduduk setempat. Tenun ikat dan anyaman bisa menjadi suvenir yang baik. Jika rakyat diberikan pelatihan membuat kemasan yang baik, suvenir akan lebih menarik bagi wisatawan.
Masyarakat lokal akan mendapatkan dampak positif dari kegiatan pariwisata jika transportasi lokal disediakan oleh pengusaha lokal. Ada bus dan angkot yang dimiliki penduduk setempat. Paling tidak sepeda motor untuk ojek.

Masyarakat lokal akan mendapatkan dampak positif dari kegiatan pariwisata jika hotel dan restoran dimiliki oleh masyarakat setempat. Paling tidak, masyarakat lokal pemilik tanah ikut memiliki saham hotel dan restoran yang dibangun. Tanah penduduk tidak dilepas habis, melainkan disewakan kepada pemodal besar.

Masyarakat lokal akan mendapatkan dampak positif dari kegiatan pariwisata jika para pekerja di hotel, restoran, toko, biro perjalanan berasal dari daerah setempat. Paling tidak, sebagian besar pekerja di daerah wisata berasal dari wilayah setempat.

Masyarakat lokal akan mendapatkan dampak positif dari kegiatan pariwisata jika ada budaya lokal yang dikemas menjadi seni pertunjukan rutin. Nyanyian dan tarian adat bisa dikelola dengan baik menjadi uang jika pemda membantu menyediakan acara malam kesenian di gedung atau lokasi kesenian. Pelancong sudah diberikan informasi bahwa pada malam tertentu ada pertunjukan kesenian lokal.

Masyarakat lokal akan mendapatkan dampak positif dari kegiatan pariwisata jika penduduk setempat ikut memiliki home stay. Dengan memiliki satu kamar — dilengkapi toilet dan kamar mandi yang bersih, dan air conditioner– yang baik, pemilik homestay bisa mendapatkan Rp 150.000 per malam atau minimal Rp 3,5 juta per bulan. Jika satu orang memiliki tiga kamar, pendapatan Rp 10 juta sebulan sudah di tangan. Mengelola lahan pertanian 1 ha belum tentu mendapatkan uang Rp 2,5 juta sebulan.

Pengeluaran wisatawan dari pulau lain dan dari mancanegara terdiri atas biaya pesawat, transportasi lokal, hotel, makanan, suvenir, dan menonton atraksi atauj kesenian. Suvenir bisa berupa bahan makanan yang dikemas rapi, makanan jadi yang dikemas menarik, tenun ikat, bahan anyaman, gantungan kunci, pakaian, dan mainan anak-anak. Rakyat setempat dengan bantuan pemda harus bisa merebut sebagian besar pengeluaran setiap wisatwan.

Pariwisata bukan kegiatan eksploitatif. Daya tarik wisatawan justru pada alam yang tetap lestari, panorama yang indah, hutan, air, dan laut yang tidak tercemar. Daya tarik wisatawan justru pada pelayan hotel, restoran, toko, dan penduduk setempat yang ramah.

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat jangan hanya rajin mengecam pariwisata, tapi terus menjaga dan memperjuangkan lingkungan yang bersih. Saya dan rekan-rekan tengah mempersiapkan pembentukan “Komodo Watch” untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam Labuan Bajo sebagai gateway dan Taman Nasional Komodo.

Dampak TdF sudah kelihatan. Pemerintah pusat mengerahkan Kementeran PU-PR untuk memperbaiki jalan dan menyediakan air bersih, Kemenhub untuk memasang dan memperbaiki rambu dan pembatas jalan dengan jurang. Untuk pertama kali, Menko Maritim dan Sumber Daya menghimpun para bupati se-Flores dan gubernur NTT (yang saat itu diwakili oleh wagub NTT) untuk membicarakan penyelenggataan TdF dan pengembangan wisata Flores.

TdF akan digelar setiap tahun dengan rute yang berubah-ubah. Tahun 2017, TdF akan menggunakan jalur utara, dari Maumere ke Riung. Rute selanjutnya bisa ke Bajawa agar Mbay dan Mborong yang tahun ini tidak kebagian sebagai tuan rumah, akan mendapat giliran.

TdF tahun 2016 berawal dari Larantuka, menyinggahi kota Maumere, Ende, Bajawa, Ruteng, dan berakhir di Labuan Bajo. Total panjang rute balap sekitar 661 km. Hotel di Mbay dan Mborong dinilai belum siap menerima tamu internasional, yakni para atlit sepeda anggota Union Cycliste Internationale (UCI), semacam FIFA-nya lomba sepeda dunia. Mbay ada masalah lain, yakni jalur jalan Mbay-Boawae yang masih di bawah standar UCI.

Pariwisata mengajak orang tersenyum dan bahagia. Mari sukseskan TdF karena even ini akan mendongkrak jumlah wisatawan ke Flores dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. *** (Sumber : Investor Daily)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *