Cinta Itu Dua Bathin yang Saling Merindukan

oleh
Ilustrasi (Sutterstock.Com)

Hawa kota Townsville. Dingin sekali. Menusuk hingga sum-sum. Tak urungkan niatku untuk mengunjungi kampus pagi ini.

Setelah sarapan pagi seadanya, saya berangkat ke kampus. Hari ini saya tidak ada tumpangan. Karena teman-teman serumah pada off kuliah. Aku menumpang bus kota.

Saya turun di University Hall. Melewati emperan gedung dan setapak menuju perpustakaan Eddie Koiki Mabo yang berjarak 500 meter dari gedung ini. Saya melintas di sebuah jembatan kecil. Tampak seorang mahasiswi duduk pada sebuah bangku  beton di bawah pohon yang sangat rindang.

Wanita ini adalah wanita yang sama yang pernah saya lihat hari-hari sebelumnya. Rambutnya pirang berkeliauan ketika disiram cahaya yang menelisik dari celah-celah dedaunan.

Aku terus berlalu menuju perpustakaan. Tapi wanita itu tidak hilang dari memori. Terbawa hingga saya duduk di dalam perpustakaan.

Pikiranku yang pertama muncul adalah ingin berkenalan dengannya. Karena setiap dengan pemandangan yang unik di kampus memicu keingintahuanku. Sama seperti peristiwa sebulan yang lalu, akhirnya aku berkenalan dengan wanita difabel yang saban hari selalu mengunjungi perpustakaan. Perkenalan yang menghantar aku memahami semangat dan perjuangannya yang tak pantang menyerah.

Momentum pertemuan tiba. Pada acara Friday Free Lunch, makan siang gratis setiap hari jumat untuk mahasiswa internasional. Biasanya unit International Student Support menyediakan makanan siang berupa roti, daging dan sosis di salah satu taman kampus. Selain makan bersama, ada kegiatan lain seperti bermain bola volley atau menabur gendang. Suasana ramai dan tidak monoton. Sehingga sesama mahasiswa internasional dari berbagai negara bisa saling menyapa dan berkomunikasi.

Wanita itu pun hadir pada acara itu. Wajahnya memang sangat familiar di memoriku. Aku mengamatinya sejenak sambil mencari ruang waktu untuk mengobrol.

Ia duduk pada sebuah bangku panjang, tak jauh tempat acara ini. Saya berjalan ke arahnya. Menyapanya.

“Selamat pagi.”

“Pagi.”Disambutnya.

“Bolehkah aku duduk di sini?”

“Ya. Silahkan.”

“Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Menyenangkan.”

“Wow…senang mendengarkannya. Darimana asalmu?”

“French Polynesia.”

“Aku baru dengar nama negara itu.”

“French Polynesia adalah sebuah negera kecil di Samudera Pasifik. Negara ini bekas koloni Perancis. Karena itu diberinama French Polynesia.”

“ Anda?”

“Asalku, maksudmu?”Pura-pura bertanya.

“Ya.”

“Saya dari Timor Barat.”

“Timor Barat?”Sambil mengernyitkan dahi.

“Timor Barat sedaratan dengan negara Timor Leste. Tapi Timor Barat merupakan bagian dari wilayah negara Republik Indonesia.”

Aku sengaja menyebut Timor Barat (West Timor) untuk memudahkan untuk mengenalnya. Jika ia tahu Timor Leste atau East Timor, ia akan tahu pula West Timor. Ternyata sebutan West Timor masih asing di telinganya.

Percakapan kami semakin panjang. Cerita ngalor ngidul. Mulai dari tentang negara asal hingga perkuliahan. Percakapan terhenti ketika handphone-nya berdering berkali-kali. Ia pun pamit karena ada sesuatu yang penting dan harus diselesaikannya.

Saya kembali bergabung dengan teman-teman asal Indonesia. Menghabiskan sosis dan potongan roti yang tergenggam di tangan.

Bayangan wanita itu mengusikku. Pertemuan singkat di taman itu mendatangkan penilaian positif pada wanita itu. Ia sosok jauh dari bayanganku sebelumnya. Aku mengira ia wanita introvet. Menutup diri dan tak mau bergaul dengan sesamanya. Karena aku melihat ia selalu menyendiri di taman. Prasangka mendahuli fakta. Ternyata ia wanita yang supel. Ramah. Mudah akrab. Tutur katanya mengalir.

Sejak pertemuan pada acara Friday Free Lunch, aku tak pernah bertemu lagi wanita ini. Di taman pun aku tak lihat lagi. Tiada dirinya lagi di bangku di bibir kali mati yang membela kampus. Ia lenyap tanpa kabar. Namanya pun aku belum sempat kutanya pada perkenalan perdana. Satu-satunya cara aku dapat mengenalinya, aku harus  menemuinya lagi di bangku taman kampus itu.

Sebulan berlalu. Jejak wanita hampir terhapus di memoriku.  Tak ada lagi wanita yang selalu mengisi taman setiap hari kuliah di bangku kosong itu. Tak ada lagi.

Aku mungkin tersihir oleh sikapnya. Senyum dan tutur katanya. Wajahnya terbawa. Karena itu aku selalu merindukannya setiap kali tiba di kampus.

Jumat malam. Saya sedang menunggu angkutan umum di bus stop kampus yang berada di seberang University Hall. Suasana bus stop agak redup. Sebuah mobil sedan datang dari arah kanan dan berhenti persis di depan saya. Seorang wanita keluar dari dalam mobil. Ia melangkah ke kotak sampah yang letaknya persis di samping bus stop dimana aku duduk. Semakin dekat, semakin aku mengenal wajah ini. Wajah wanita yang menghuni benakku selama ini. Usai ia memasukkan sampah ke kotak hijau, aku menyapanya.

“Hi.”

Wanita itu tersentak kaget. Tak mengira ada orang yang menyapanya sok akrab. Ia berhenti sejenak dan membalas sapaanku.

“Hai. Apa kabar?” Balas wanita itu.

Aku bangkit berdiri dan menyodorkan tangan hendak bersalaman. Hatiku bisa tersenyum karena akhirnya menjumpainya lagi.

Kami tidak bisa ngobrol lama karena ia parkir mobil pada area yang tidak tepat. Pula hari sudah larut malam. Ia menawarkan diri untuk menghantarku tapi aku menolaknya. Bukannya aku tak mau. Siapa yang tak mau dihantar wanita cantik seperti dia. Tapi sebagai lelaki tidak boleh polos. Sesekali waktu aku harus jaga image.

“Kita pernah bertemu dan tak pernah saling menanyakan nama.”

“Benar sekali.”Sambil tersenyum.

“Siapa namamu?”

“Ebony.”

“Marvel.” Bersalaman untuk kedua kalinya.

Kami sepakati untuk bertemu lagi. Waktu yang tidak pasti. Tempat pun tidak. Ia hanya mengatakan berjumpa lagi nanti. Hatiku tetap berbunga. Asa yang nyaris pupus meletup-letup di dalam hatiku.

“Ebony…”Aku membathin.

Hari demi hari, hubunganku dengan Ebony semakin akrab. Kami sering membuat janjian untuk bertemu di kampus. Kami memiliki selera dan hobi yang sama. Mencintai dengan suasana kampus yang asri, hening dan bening. Tempat yang tepat untuk bercengkrama. Mengisi ruang yang kosong dari aktivitas perkuliahan.

Kami bisa bercerita berjam-jam tentang seputar kehidupan sosial dan masyarakat di negara masing-masing. Pula tentang kuliah. Ia kadang tertawa terkekeh-kekeh kala aku menceritakan pengalaman awal datang ke Australia. Hal-hal konyol yang aku alami.

Keakraban terajut kian erat. Kami semakin terbuka satu sama lain. Arah perbincangan kami pun meluas. Bahkan masuk ke zona privasi. Kehidupan rumah tangga. Kami tidak saja sebagai teman tetapi sudah menjadi sahabat sejati.

Suatu hari pada bangku favoritnya, ia menyampaikan permohonan maaf karena tidak meninggalkan kabar. Ia pergi begitu saja dari Townsville tanpa meninggalkan pesan.

Telepon berdering saat Friday Free Lunch  kala itu memanggil dirinya pulang ke French Polynesia. Putra sulungnya mendadak sakit. Satu-satunya anak dari buah perkawinan dengan mendiang suaminya. Sebulan lebih ia harus mengurus putranya.

Alasan studi, Ebony harus meninggalkan keluarganya. Cita-cita masa kecilnya. Mengarungi samudera, berburu ilmu di negeri orang.

“Seandainya aku bisa membangkitkan suamiku, aku akan membangkitkannya.”Tuturnya lirih pada suatu senja.

Cintanya besar pada suaminya.  Suaminya adalah sosok yang sempurna dimatanya.

“Suamiku berasal dari keluarga sederhana. Sebelum ia menikahiku, ia sering dipandang rendah oleh keluarga dan kerabat seasalnya.  Itu terjadi hingga di  awal-awal pernikahan kami.”

“Aku melihat perlakuan mereka kontan marah dalam bathin. Suatu pada acara keluarga saya tegaskan secara terbuka bahwa mulai sekarang  tak satupun orang yang memerintah suaminya.”

Suaminya memang buruh serabutan. Ia mengerjakan apa saja. Ia tak pernah  menolak, siapapun yang memerintahnya. Berbeda dengan dirinya, seorang pegawai yang berpenghasilan lebih tinggi dari suaminya.

Cinta tak dapat diukur oleh hal-hal lahiriah, materi, status dan kedudukan. Kala ia memutuskan untuk menikahi, perbedaan itu dilebur menjadi sejajar dengannya. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, ia dan suaminya sering dipandang rendah.

Keputusan berani wanita ini terus dipandang rendah oleh keluarga dan kerabatnya karena menikahi pria dari kelas jelata. Status sosial kerap menjadi ukuran dalam hidup masyarakat. Ia mengaku jujur dendam pada mereka yang hanya memicingkan mata kala melihat kehidupan rumah tangganya. Dalam hati pula ia menanamkan tekad untuk membuktikan ia bisa bahkan melampaui mereka.

“Aku benar-benar marah dengan cara pandang mereka kepadaku. Mereka menganggap aku dan suami rendah. Aku pernah berkata dalam hati, suatu waktu aku akan buktikan dapat melampui mereka.”

Kehidupan mereka terus merangkak naik. Suaminya tetap pada profesinya sebagai buruh. Tapi istrinya tak pernah malu, sebaliknya ia sangat bangga padanya. Sementara karier wanita itu terus naik bahkan selevel orang-orang yang pernah memandang dirinya rendah.

Orang-orang yang meremehkan mereka berubah sikap. Mereka biasanya tak pernah senyum, mereka berubah selalu tersenyum jika berpapasan. Perubahan ini disadari betul Ebony. Sikapnya tetap pada pendirian pertama. Tak terpengaruh dan bersikap sewajarnya kepada mereka.

“Cita-citaku satu. Aku harus menaikan status suamiku.”Tuturnya berurai airmata.

Ia sangat menyesal dengan kepergian suaminya. Seandainya ia diberi kuasa membangkitkan suaminya, saat ini pula ia akan membangkitkannya saat itu juga.

“Suamiku baik sekali. Aku sangat menyesal karena kepergiannya terlalu cepat. Kadang aku bertanya kepada Tuhan bahkan aku marah kepada-Nya. Mengapa Tuhan mengambil suamiku?”

Ebony amat sangat kehilangan suaminya. Suaminya adalah pria yang terbaik dalam hidupnya. Tekadnya untuk menunjukkan cintanya, di saat-saat akhir hidup suaminya ia mengopnamekan suaminya di kelas VIP. Suaminya menolak karena biaya terlalu tinggi.

“Mama, apakah itu tidak mahal?”

“Tidak apa-apa, Bapa.”

Ebony rasa itu belum cukup untuk membalas kebaikannya dengan memasukannya dalam ruang VIP.

“Cinta itu dua bathin saling merindukan. Cinta tidak diukur oleh materi. Dibelikan mobil oleh suami atau sebaliknya. Cinta itu adalah kebersamaan yang selalu menghadirkan senyum kebahagiaan secara batiniah.”

Aku tertegun. Tapi mataku tetap menancap pada keningnya. Menyimak alur ceritanya. Diam-diam di bathin, aku mengaguminya.

“Saya bahagia sekali setiap kali suami menjemputku di  kantor. Rasanya bahagia sekali setelah berpisah beberapa jam. Kebahagiaan itu terbawa hingga rumah.”

“Rasakan cinta suami. Jika suami mencintai kita, istri harus meyakinkan cinta kepadanya. Cinta itu tidak perlu dibawa beban. Nikmati saja apa yang kita miliki. Makan apa adanya.”

Suaranya semakin serak. Tak terasa air mata meleleh, membasuh pipih yang merah ranum. Aku tak bergeming. Menatapnya. Aku tak mungkin menyekap airmatanya. Diam adalah sikap yang tepat meskipun hati kecil berkata untuk meraih bahunya dan sandarkan pada dadaku.

“Ah, lebay…”Gumamku sendiri.

Dengan suara terbata-bata, Ebony menuturkan filosofi rumah tangga yang mereka lakoni seperti ini.

“Suami dan istri itu ibarat anak-anak. Mereka bermain bersama, baku marah dan berantem tetapi setelah itu masalah selesai. Mereka tidak menyimpan dendam. Amarah menguap seketika.” Tuturnya menasehatiku.

Percakapan kami berakhir ketika matahari hilang dari peredaran. Langit Townsville gelap gulita. Lampu-lampu di Mount Stuart berganti fungsi sebagai bulan dan binatang meski cahaya tak mampu membias seluruh kota. Akhirnya kami berpisah. Kali ini aku menyiyakan tawaran Ebony untuk mengantarku pulang ke Nathan Street.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *