Sebuah Catatan Pena Untuk Sang Penulis Kitab Hidup “Jejak Langkah” Frans Wora Hebi

oleh
Frans Wora Hebi
Frans Wora Hebi, Penulis Jejak Langkah - Sebuah Autobiografi (2017)
Frans Wora Hebi, Penulis Jejak Langkah – Sebuah Autobiografi (Foto: Maxfmwaingapu.com)

| KOEPANG.COM | Catatan Pena Untuk Sang Penulis Kitab Hidup “Jejak Langkah” Frans Wora Hebi. Membaca buku Jejak Langkah, karya Frans W. Hebi (2017) seperti mengajak saya pulang ke masa berpuluh-puluh tahun yang lalu. Masa-masa keluguan, kenakalan, romantika kehidupan asrama dan dinamika sebagai seorang anak-anak, remaja dan pemuda yang berasal dari kampong.

Pengalaman yang diabadikan dalam buku tersebut menggelitik pembaca karena goresan kisah jenaka penulis, sahabat dan kenalannya. Tak kalah pula decak kagum atas kecerdasan seorang Frans W. Hebi yang membuat pembaca terhenyak sejenak. Tak berhenti di situ. Frans W. Hebi memaparkan kita secara gamblang pertualangannya menggapai impian dan konsistensi dan komitmennya untuk merawat idealisme dan panggilan hidupnya.

Kisah-kisah yang ditulisnya sangat dekat dengan kehidupan saya dan mungkin juga kehidupan kita semua. Kisah itu aktual-kekinian dalam realitas sosial. Konteks yang diangkat kehidupan masa kecil di kampung, kehidupan di asrama, dan masa perkuliahan menarik saya ke dalam berbagai pergumulan yang ditulis dalam buku ini.

Ketika saya menerima buku dari putrinya, saya berujar, “Tidak banyak penulis yang berasal dari Sumba, jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur. Pengecualian untuk Sumba, sekali muncul penulis langsung yang berkelas.”

Ucapan spontan – sebelum saya membuka sampul buku. Sekembali ke kantor, saya membiarkan buku itu tergeletak di meja. Sesaat kemudian, kata-kata ritual pembuka pun menguntai dari bibir.

Sebelum membuka sampul
Terbayang sandalwood
Padang Sabanah
Pantai indah
Rambu anggun terbalut tenunan tangan manusia
Umbu berkastria dengan parang terhunus di pinggang

Sebuah buku di tangan
Maha karya lelaki rentah
Maha guru
Musafir Sumba
Tak pernah kehabisan kata hingga usia senja
Memahat setiap jejak langkah
Menjadi cerita tak pernah lapuk oleh zaman

Manusia meninggalkan jejak
Pada setiap derap waktu
Bapak Frans terus melangkah
Jejak kakinya terjelma dalam Jejak Langkah

Frans Wora Hebi: Guru dan Wartawan Sama Baiknya

Seperti halnya guru dan wartawan adalah dua profesi yang dilakoni secara bersamaan. Guru adalah profesi yang diraihnya melalui proses akademik. Sementara wartawan adalah profesi yang ditekuninya melalui proses berlatih berkat teori yang diperoleh di lembaga pendidikan tinggi. Karya penanya melampui penulis di usia dan statusnya sebagai mahasiswa. Tulisannya menembus Kompas bukan hal yang mudah kala ia masih duduk di bangku kuliah. Frans W. Hebi mampu mengukirnya bahkan ia berani berpolemik dengan dosan-dosennya di media Kompas.

Ia tidak berhenti menulis pada satu dua media. Buah pikirannya, entah itu opini, cerpen dan puisi dipublikasikan di berbagai media, nasional, regional dan daerah.

Penulis dan Buku Jejak Langkah Autobiografi Karya Frans Wora Hebi (2017)

Sehingga sangat sulit untuk memposisikan Frans W. Hebi sebagai guru atau wartawan. Di satu sisi ia bekerja sebagai guru, di sisi lain ia bekerja sebagai seorang wartawan. Dua-duanya dijalankan sama baiknya.

Sebagai seorang jurnalis, Frans W. Hebi memiliki kuasa untuk menggoyangkan eksistensi pejabat pada waktu itu yang rentan terusik dengan pemberitaan di media apalagi soal pemberitaan terkait dengan kebijakan yang menyimpang. Ia juga tampil sebagai pembela kelompok masyarakat yang tertindas oleh kesesewanang-wenangan baik oleh kelompok masyarakat yang lain maupun oleh penegak aparat.

Tanpa mengenal lelah ia menelusuri jejak berita. Ia melakoni tahapan jurnalis dengan melakukan investigasi ke narasumber. Ia tidak duduk pangku kaki di rumah lalu menuliskan berita. Ia terjun ke lapangan. Menggali informasi secara mendalam.

Ia tak luput dari godaan, uang dan benda berharga lain atas jasa yang dilakukannya. Tak sekali atau dua kali, godaan itu datang berkali-kali. Frans W. Hebi selalu menolak segala bentuk pemberian. Ia tetap berjalan pada rel idealisme sebagai seorang jurnalis sejati.  Ketulusan, kejujuran dan kepatuhan seorang Frans W. Hebi soal ini tak dapat diragukan lagi. Ia memilih untuk melakukan dengan tulus tanpa embel-embel uang atau balas jasa yang tak pantas diterimanya.

Frans Wora Hebi: Pemilik Kitab Hidup

Frans Wora Hebi telah menuliskan kitab hidupnya dalam wujud Jejak Langkah ini. Ia tidak saja menjadi penulis kitab itu, tentu saja sebagai nabi yang menggemakan seruan profetis melalui karya penanya. Tidak saja menjadi nabi, ia juga pelakon dan inspirator – sumber keteladanan. Memihak kepada kebenaran daripada harta, kedudukan, dan uang. Frans Wora Hebi, dari Sumba, padang sabana dan ringkikan kuda, ia telah menginsirasi kita semua.

Tulisan ini tak dapat mewakili seluruh isi buku ini. Anda dapat menelusuri jejak hidup seorang Frans Hebi pada Buku Jejak Langkah – Sebuah Autobiografi  (2017). ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *