Catatan dari Sulamu : Meneladani Maria yang Solider

oleh
Foto (Facebook.Com/Yuven.Solo)
Foto (Facebook.Com/Yuven.Solo)

Maria dalam tradisi Gereja Katolik berada pada tempat yang sangat istimewa. Figur yang menjadi sumber keteladanan keluarga Katolik. Karena itu Gereja Katolik mendedikasikan secara khusus bulan Mei dan Oktober sebagai bulan Maria.

Penentuan bulan Mei dan Oktober bukan tanpa riwayat sejarah. Tidak ditentukan begitu saja oleh para petinggi Gereja pada jaman itu. Melewati proses sejarah dan pengalaman iman umat Katolik yang panjang dan melelahkan.

Bulan Mei  dalam siklus musim  merupakan permulaan dari musim semi. Dimana di Eropa atau kawasan yang memiliki 4 jenis musim akan dipenuhi bunga atau kembang. Kemudian bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria sebagai Hawa yang Baru – ibu dari semua yang hidup (mother of all the living).

Sejak itu (abad ke 13) bulan Mei didediksikan sebagai bulan devosi kepada Bunda Maria, kemudian dipopulerkan oleh para Jesuit di Roma sekitar pada tahun 1700-an.

Selain penentapan Mei sebagai bulan Maria karena alasan siklus alam (musim di Eropa) yang dihubungkan dengan reflreksi teologis, pula berdasarkan pengalaman iman dan janji Paus Pius VII ketika ia mendekam di dalam penjara pada masa pemerintahan Napeleon (1809). Ia meminta dukungan umat melalui Doa Rosario dan jika ia dibebaskan ia akan menyelenggarakan perayaan Bunda Maria. Setelah 5 tahun mendekam di penjara, akhirnya pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan dan ia menepati nazarnya dengan mengumumkan hari perayaan Bunda Maria sebagai penolong umat Kristen. Devosi kepada Bunda Maria semakin populer ketika Paus Pius IX mempublikasikan dogma Immaculate Conception” –  Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” (1854). Devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal dan diterima oleh Gereja sedunia. Sementara itu Paus Paulus VI dalam ensikliknya yang berjudul  “the Month of Mary” menangaskan dengan tegas bahwa  bulan Mei adalah “bulan dimana umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati”.

Penetapan bulan Oktober sebagai bulan Rosario memiliki sejarah iman yang panjang dan menegangkan pula. Ini terkait dengan pertempuran di Lepanto (1571). Negara-negara Eropa yang basis agama Kristen berperang melawan pasukan kerajaan Ottoman yang jumlahnya jauh lebih besar daripada pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Karena merasa terdesak,  komandan armada Katolik, berkebangsaan Austria, berdoa Rosario memohon bantuan Bunda Maria. Serentak pula diikuti umat  Katolik di sederatan Eropa.  Pada  7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore dari pagi hingga petang untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Dalam situasi yang sangat mustahil terjadi,  pada akhirnya pasukan Katolik menang pada pertempuran tersebut.  Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian Paus Gregorius XIII, menetapkan 7 Oktober sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Mengikuti runutan sejarah di atas, maka penetapan bulan Mei dan Oktober sebagai bulan Maria bukan sebuah kebetulan atau kehendak sepihak pemimpin Gereja Katolik pada jaman itu. Ada nilai sejarah dan mujizat yang terjadi yang tak dapat dipungkiri oleh umat beriman. Dengan demikian, jelas bahwa umat Katolik sedunia berkewajiban untuk merawat sejarah itu melalui praktek hidup doa di dalam keluarga, gereja dan komunitas umat beriman.

Sebagai wujud keimanan akan belas kasih Bunda Maria, maka komunitas umat Katolik Wilayah V Stasi Yesus Maria Yoseph – Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang sebagai bagian dari komunitas umat Katolik sedunia turut serta merawat sejarah tersebut dan mendaraskan doa dan pujian devosi kepada Santa Perawan Maria. Dimana kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap hari selama bulan Oktober ini di lingkungan atau Komunitas Umat Basis (KUB) masing-masing – KUB St. Maria Ave Bintang Laut, KUB St. Familia, KUB St. John Paul II dan KUB St. Theresa dari Kalkuta.

 Namun berdoa saja tidak cukup. Harus ada tindakan atau aksi nyata dari doa tersebut. Seperti kata adagium klasik, “Ora et Labora” – bekerja dan berdoa. Berdoa atau bekerja saja tidak cukup. Tapi keduanya – berdoa dan bekerja – harus seirama.

Perwujudan aksi nyata dari doa itu, maka umat Wilayah V Stasi YMY Liliba melaksanakan aksi ziarah dan bhakti sosial di Sulamu. Ini sebagai upaya untuk mengambil peran Maria dalam kehidupan nyata. Sebagaimana Maria merepresentasi sosok yang solider bagi kehidupan umat manusia. Jawaban Maria atas sapaan Malaikat Gabriel merupakan pernyataan dan kesediaan Maria untuk mewujudkan nyata semangat solidaritas dalam misteri penebusan dosa umat manusia.

Dengan menerima perintah Tuhan, sesungguhnya Maria sudah bersikap solider akan misteri penebusan dosa umat manusia. Apalagi setelah rahimnya dibuahi Roh Kudus yang melahirkan Sang Juru Selamat. Allah yang solider sangat tampak dalam sikap kerendahan hati dan kesediaan Maria sebagai Bunda dari Sang Mesias.

Maria menyadari dari rahimnya akan lahir Yesus yang menyelamatkan dosa dunia. Kesadaran itu pula dari keyakinannya akan Allah sendiri adalah pribadi yang Solider – peduli dengan ciptaan-Nya. Karena itu IA  mengutus putra-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Misi mulia ini berjalan karena restu dan kehendak Tuhan sendiri untuk membuahi rahim Maria. Di sini, jelas dan tegas, Maria turut berperan dalam misteri penyelamatan dosa umat manusia.

Dari refleksi biblis, Maria sebagai pribadi yang solider mendorong kita umat Katolik untuk lebih solider dalam kehidupan harian kita. Solidaritas itu dapat diwujudkan nyatakan dalam kegiatan bhakti sosial seperti pemberian bantuan sembako dan pemeriksaan dan pengobatan gratis serta kegiatan amal lainnya.

Menjadi pribadi atau komunitas yang solider, kita harus mampu keluar dari sekat ekslusivitas kelompok. Kekristenan harus mampu menghadirkan diri di tengah sesama yang lain – apapun suku, agama dan strata sosial.

Kunjungan umat Wilayah V di Sulamu menampakan Maria yang solider dalam wujud yang berbeda. Pertama, keberadaan umat Wilayah di tengah umat Stasi Santa Familia Sulamu dan warga Sulamu yang mengikuti pemeriksaan dan pengobatan gratis oleh Poltekes Kemenkes Kupang  menyatakan spirit solidaritas itu sendiri. Karena solidaritas itu sendiri adalah tanda kehadiran kita di tengah mereka. Perhatian itu adalah tanda kehadiran itu sendiri. Kita ada untuk mereka.

Kedua, membagi bantuan sosial berupa sembako, pakaian layak pakaian dan cirgen kepada umat Stasi Familia dan warga Pulau Kera merupakan tanda nyata dari kehadiran di tengah mereka. Persoalannya bukan pada nilai material yang diberikan tapi nilai pemberian yang berasal dari niat tulus dan kobaran semangat kebersamaan, persaudaran dan kepeduliaan kepada sesama.

Ketiga, menginisiatif membangun kerja sama umat Wilayah V dengan Poltekes Kemenkes Kupang membuktikan solidaritas itu harus dibangun atas kerja sama dengan banyak pihak. Perubahan akan terjadi bila banyak pihak terlibat dan mengambil bagian di proses perubahan itu sendiri. Allah sendiri dalam misteri penebusan dosa umat manusia melibatkan Maria sebagai manusia pilihan yang meneruskan  Keilahian Allah di dunia.

Terakhir, apapun karya kemanusiaan, entah itu bhakti sosial, pemeriksaan dan pengobatan gratis dan kegiatan sosial lainnya harus menyentuh semua mereka yang sangat membutuhkan bantuan. Tanpa sekat agama, suku, dan pelbagai perbedaan lainnya. Karena tanda kehadiran kita di tengah mereka membawa wajah Allah untuk semua orang. Allah yang hidup bukan Allah yang ekslusif. Allah yang sesungguhnya bukan Allah yang diklaim sepihak atau sekelompok umat manusia. Allah untuk semua manusia. Di dalam wajah manusia itu pula, wajah Allah dipancarkan.

Doa dan bekerja. Adagium yang lahir bukan tanpa refleksi yang mendalam. Aktualisasi dari doa adalah kepedulian kita kepada sesama. Berapa besar kepedulian itu, yang paling penting adalah inisiatif dan kepekaan kita dengan lingkungan di sekitar kita. Santa Theresa dari Kalkulta pernah berkata “Not all of us can do great things. But we can do small things with great LOVE” – Tidak semua orang dapat melakukan hal-hal yang besar. Tapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan CINTA yang besar.

Kita tak mungkin dapat mensejajarkan diri dengan Bunda Maria dalam menjalankan misi Allah dalam penebusan dosa dunia, paling tidak kita dapat melakukan hal-hal kecil kepada mereka yang berkekurangan, terpinggirkan dan kurang mendapat perhatian. Yang penting bagi kita adalah  kita dapat belajar dari Bunda Maria yang telah membaktikan hidupnya sebagai ibu yang solider. Kiranya kita pun demikian –  menjadi pribadi-pribadi yang solider dalam bentuk dan warna yang berbeda.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *