Bukit Cinta “Wolor Pass” Lembata: Semua Sensasi Jenis Cinta Ada di Sini!

oleh

Lewoleba, KOEPANG.COM – Para filsuf Yunani mengelompokan cinta menjadi beberapa tingkatan seperti dikutip oleh Benediktus Niron, Mahasiswa S3 Kajian Budaya Udayana, pada Wall Facebook-nya (7/12/2015) yang lalu, antara lain Eros, Philia, Storge, dan Agape.

“Eros” melukiskan cinta romantis yang juga menyiratkan keinginan untuk memiliki dan dimiliki.

“Philia” adalah cinta yang bukan berada dalam konteks romantis, melainkan cenderung kepada persahabatan. Tidak ada keinginan untuk saling memiliki, melainkan sudah tahu sama tahu bahwa saling bisa mengandalkan.

“Storge” merujuk kepada sebuah kasih sayang yang alami datang akibat hubungan darah.

“Agape” adalah cinta yang bersifat lebih rohaniah dan sederhana. Altruistik. Tidak mengharapkan apapun untuk dirinya sendiri. Hanya ingin memberi.

Pengelompokan dan defenisi cinta di atas mungkin bukan sebuah kategorisasi dan defenisi yang sempurna. Setiap orang atau pribadi memiliki defenisi dan perasaan untuk mengungkapkan kata cinta itu.

Cinta ibarat dasar samudera. Memendamkan misteri. Menyimpan sejuta makna. Karena itulah cinta bukan sekedar kata tapi memiliki daya pikat bagi semua orang.

Gambaran keempat jenis cinta di atas dapat diwakili sebuah bukit di Wolor Pass, Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Bukit Wolo Pass | Bukit Cinta
Wolor Pass ” Bukit Cinta” Lembata, NTT (Foto: penuagolo.wordpress.com)

Wolor Pass sendiri berasal dari bahasa Lamaholot. Nama tersebut sebagai wujud dedikasi kepada marga atau klan yang menjadi tuan tanah kawasan tersebut. Kemudian bukit ini dikenal dengan nama Bukit Cinta.

Bukit Cinta, sebuah bukit, hamparan sabanah, dan pantai di kakinya. Terletak di Desa Bour. Berjarak kurang lebih 10 km dari kota Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata. Di depan bukit ini terbentang Selat Boleng, Selat Lamakera, Pulau Solor, dan Pulau Adonara. Sangat mudah untuk menggapai Wolo Pass , anda dapat menggunakan baik kendaraan roda dua atau roda empat. Butuh waktu sekitar 20 menit dari Kota Lewoleba.

Menapaki jejak pada lekak-lekuk Bukit Cinta, kita melupakan sejenak ikon Lembata di Lamalera. Tradisi dan ritual nelayan (masyarakat) Lamalera menangkap ikan Paus yang kesohor itu. Di belahan lain, Lembata pun memiliki pesona alam nan rupawan – nyaris tak tersentuh wisatawan.

Bukit ini dipernuhi savanah. Diselingi pepohonan tanggung. Hamparan di Bukit Cinta berubah-ubah warna seperti lantai yang selalu berganti permadani. Musim kemarau, warna kuning emas. Musim hujan tiba, warna menjelma hijau.

Wolo Sasar | Lembata
Wolor Pass “Bukit Cinta” Lembata, NTT (Foto:WisataLembata.Blogspot.Com)

View dari bukit ini menakjubkan. Tepatnya sore hari menjelang sang fajar kembali ke peraduan, disuguhi gerak langkah sang mentari dari puncak Gunung Boleng di Adonara, beringsut menuju gugusan perbukitan Adonara Tengah, dan akhirnya menghilang di balik Botung di atas tanjung Gemuk. Senja yang indah dan damai. Teduh di negeri Lamaholot.

Menggapai Bukit Cinta, menikmati lekak-lekuk dan keindahannya, dan memandang pemandangan sejauh mata memandang, anda akan jatuh cinta padanya. Semua rasa cinta tertuang di sini. Meletup di relung jiwa. Terpancar dari mata dan aura wajah. Dari Eros, Philia, Storge, hingga Agape. Mau bukti, datanglah ke Bukit Pass, Bukit Cinta, di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Semua sensasi jenis cinta ada di sini.*** (Foto Feature: Facebook.Com/Fanya)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.