Bertemu Turis, Bawa Pulang Uang Tiga Ratus Ribu: Kisah Guide Otodidak dari Kampung Wudu

oleh
Don, Freelance Guide di Kampung Wudu, Boawae, Nagekeo (Foto: Dok. Pribadi)
Don, Freelance Guide di Kampung Wudu, Boawae, Nagekeo (Foto: Dok. Pribadi)
Don, Freelance Guide di Kampung Wudu, Boawae, Nagekeo (Foto: Dok. Pribadi)

| KOEPANG.COM | Bertemu Turis, Bawa Pulang Uang Tiga Ratus Ribu: Kisah Guide Otodidak dari Kampung Wudu. Perjalanan panjang yang melelahkan. Jika menghitung waktu keluar dari kota Maumere, seharusnya kami sudah tiba di Mauponggo. Karena perjalanan ini adalah perjalanan keluarga sehingga kami tidak menargetkan waktu tiba.

Dimaklumi kami harus melewati beberapa titik perhentian. Rumah Makan Betania Wolowaru adalah perhentian pertama untuk mengisi lambung yang kosong dan  kemudian berbincang-bincang dengan Sr. Leticia CIJ yang ramah, pemilik tips senam lidah (Baca: Senam Lidah: Tips Sehat Ala Sr. Leiticia CIJ). Perhentian kedua di rumah opa, bilangan jalan melati Ende. Kami habiskan waktu waktu hampir dua jam makan siang dan bercerita. Perhentian terakhir di Wudu, rumah adik Edeltrudis, lebih kurang  sejam.

Paman memperkenalkan saya dengan Don, suami Edeltrudis, yang adalah seorang guide di Kampung Wudu. Guide bukan profesi utamanya. Pekerjaan utamanya adalah bertani. Penulis, tentu, penasaran dengan pria ini. Sesi wawancara pun dimulai.

Dominggus Paskalis Kowe, nama lengkap pria bertubuh kecil dan pendek ini, mengisahkan profesi sampingannya berawal dengan perjumpaannya dengan turis asing dari Polandia, Australia, Perancis, USA dan Rusia. Di antara para turis ini, ada pecinta alam yang semata-mata hendak mendaki gunung Ebulobo, lainnya adalah para ilmuwan yang sedang meneliti manusia purba di Nagekeo – mungkin masih dalam kaitan dengan cerita Ebu Gogo. Mereka hendak mencari manusia kerdil berambut panjang. Di tangan para turis ini memegang peta yang sangat detil informasi tentang keberadaan manusia kerdil tersebut. Tapi orang kerdil yang dimaksudkan tidak dapat ditemukan.

Keberanian Don, demikian sapa pria ini, untuk memandu para turis karena modal bahasa Inggris yang dimilikinya dari lembaga pendidikan dan pengalaman merantau di Bali, Surabaya dan Malang. Kepada saya, ia menceritakan pernah bekerja di beberapa hotel sebagai room boy dan maintenance.

Ia merantau semenjak tamat SMA St. Clemens Boawae. Bali adalah titik singgah pertama, sebelum ia melanglang buana ke Surabaya, Malang dan hingga akhirnya pulang ke kampung. Selama di Bali ia berkorenspondensi dengan seorang Jepang. Jalinan persahabatan ini mendorong Don untuk belajar bahasa Jepang. Orang ini pun mengajarkannya. Karena persahabatan itu pula mereka akhirnya bertemu di Bali.

Rupanya Bali belum merupakan tempat yang pas untuk mengasoh, Don remaja waktu itu merantau ke Surabaya. Berbeda dengan pekerjaan di Bali, ia malah memilih profesi sebagai debt collector. Debt collector adalah profesi yang mempetaruhkan nyawa, tetapi Don memberikan alasan bahwa ia dan sahabatnya menjalankan profesi ini dengan kasih. Tidak ada kekerasan sebagaimana debt collector pada umumnya yang memamerkan keangkeran wajah dan fisik.

Belum puas dengan kehidupan di Surabaya, Don bergerak ke selatan dan berlabuh di Kota Malang. Ia bekerja di sebuah perusahaan konveksi. Berhenti di perusahaan konveksi, Don memilih menjadi satpam (security) di  perusahaan sarang burung walet, juga nyambi menangani urusan pertamanan di Taman Kota. Ziarah hidup Don terus berlanjut. Ia mencoba tantangan baru di Kota Malang sebagai room boy  dan maintenance di Hotel Niagara. Sebelum meninggalkan Malang dan kembali ke kampung halaman pada  tahun 2000, ia sempat bekerja di Bengkel Las dan juru parkir.

Dari tiga kota yang disinggahinya, Malanglah yang paling mengesankannya. Karena di Malang ia mencoba berbagai jenis pekerjaan dan yang tak kalah menarik adalah ia menerjunkan diri di dunia ngamen dari rumah ke rumah, hotel ke hotel dan dari restaurant ke restaurant.  Ia bersama Welly Semi, Darwin, dan beberapa teman dari Sumba dan Ambon bergabung dalam Florasta Band.

Keputusan pulang kampung adalah pilihan hidupnya. Memutuskan bertani adalah pilihan hidup juga. Tahun 2005, Don mempersunting gadis sekampung. Kini ia telah dikarunia 5 orang putra dan putri. Di bawah kaki Ebulobo, Don merintis usaha peternakan ayam pedaging. Selain itu, ia memandu turis asing yang hendak melakukan tracking ke puncak Ebulobo.

Kemampuan atau ketrampilan berbahasa asingnya tidak diketahui warga di Kampung Wudu. Kalaupun ada segelintir orang yang mengenalnya secara pribadi. Karena bocoran informasi dari orang-orang yang mengenalnya, Don dikirim oleh Kepala Desa Wolopoko untuk mengikuti Bimbingan Teknis Pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, 26-28 April 2017 yang silam. Kepercayaan ini dijawab dengan mental keberanian baja untuk bergabung dalam kegiatan yang melibatkan orang dari berbagai profesi dan utusan instansi dengan tuntas. Don seorang diri petani harus berada di tengah-tengah mereka. Kepercayaannya karena ia percaya dengan kemampuannya berbahasa Inggris dan Jepang.

Di akhir percakapan Don mengakui, selain bahasa Inggris dan Jepang, ia juga bisa berbicara bahasa Italia. Kemampuan bahasa Italia ini ia peroleh dari saudarinya yang seorang biarawati di Italia. Kemudian ia dituntun oleh adik dari sang istri yang juga adalah biarawati yang berkarya di Maumere.

“Setiap kali suster telepon saya selalu minta ia berbicara dalam bahasa Italia. Wah, ternyata bahasa Italia asyik juga,” tutur Don sebelum saya mengajaknya mengambil foto dengan latar belakang Gunung Ebu Lobo dari tengah kampung Wudu.

Kepada saya, Don menitipkan pesan, apabila ada wisatawan domestik maupung asing yang hendak melakukan tracking ke puncak Ebulobo atau pun menelusuri kampung adat dan obyek wisata lain di sekitaran Kecamatan Boawae anda dapat menghubunginya ke nomor 081 330 107 401. Ya, anda tidak perlu merogok kocek dalam-dalam, sekedar memberinya uang bensin atau rokok, istilah masyarakat setempat, dan dijamin perjalanan anda aman dan terlindungi.

“Saya pernah mengantar turis ke Ebulobo. Sekembali dari sana saya diberi uang tiga ratus ribu rupiah. Istri dan anak-anak kaget melihat saya bawa pulang uang tersebut, ”cerita Don sumringah.

Pengalaman itulah yang membangkitkan optimisme Don untuk menekuni profesi sebagai pemandu wisata lokal, apalagi ia telah dibekali dengan kemampuan dan ketrampilan teknis dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT. Thanks, ari gato, grazie, Don. ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *