Berbusana Adat Sabu, Menjadi Orang Sabu

oleh

KOEPANG.COM – Setelah berbincang dan meneguk gula air, mama Elisabeth mengambil seperangkat busana tradisional Sabu.

Ada layanan dari keluarga kampung adat ini, pengunjung diberi kesempatan untuk mengenakan busana tradisional untuk tujuan pemotretan. Informasi layanan ini saya peroleh dari sang ojek. Karena itu saya tertarik untuk datang ke kampung Namata dan melupakan sejenak tugas utama saya di Sabu.

Tidak ada patokan tarif sewa pakai busana adat Sabu. Pengunjung bebas menyumbang berapa saja. Asalkan pemberian itu iklas. Berasal dari niat tulus nan demi pelestarian tradisi dan budaya. Setiap sumbangan atau pemberian dicatat dalam buku tamu.

Sebelum kami tiba, kampung Namata dikunjungi tamu dari Bali. Mereka datang ke kampung Namata hanya untuk foto mengenakan busana tradisional Sabu.

“Tadi ada tamu dari Bali. Mereka datang hanya untuk foto pakai pakaian adat Sabu. Mereka baru saja pulang.” Tutur mama Elisabeth.

Saat mengenakan pakaian adat tiba. Mama Elisabeth meminta saya menanggalkan ransel. Dibantu bapak Daud, tetangganya. Bapak Daun memasang ‘lehu’ atau sorban di kepala saya. Setelah sorban terpasang, bapak Daun mengenakan saya sarung dan kemudian diikatkan dengan seutas kain.

Yang terakhir penyematan selendang. Nah, ini mama Elisabeth lakukan sendiri. Tidak sampai sepuluh menit, seluruh perangkat busana adat terpasang di tubuh saya. Saya tampil gagah sebagai “namone ama”. ๐Ÿ™‚ ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.