Berada di Pulau Komodo Seperti Terlempar Beberapa Abad Lampau

oleh
Ari Siagian

Jakarta, KOEPANG.COM – Pada akhir tahun ini, Koepang.Com kedatangan tamu istimewa. Namanya, Aryan Obrien Siagian. Keluarga dan para sahabat biasa menyapanya, Ary.

Ary, anak ke-3 dari 4 bersaudara, kepada Koepang.Com membagi pengalaman perjalanannya ke NTT dan pandangannya tentang strategi pengelolaan pariwisata di Indonesia.

Berikut petikan wawancara Ary dengan Crew Koepang.Com.

Apakah hobi Anda?

Travelling, makan, membaca, nonton, diving, rafting. Suka dengan hal atau aktivitas yang berhubungan dengan air.

Anda pernah berkunjung atau bertamasya kemana saja? Pulau Sabang, Bali, atau Raja Ampat?

All over the place in Indonesia, you name it! Singapore and Australia yang abroad-nya.

Kegiatan apa untuk mengisi liburan Anda?

Travelling jika waktunya cukup, nonton dan hang out bareng keluarga jika di seputaran Jakarta.

Saya pernah melihat postingan foto-foto kunjungan Anda ke Pulau Komodo di wall facebook. Kapan Anda mengunjungi habitat binatang purba tersebut?

Bulan September 2014 as my birthday present. Saya lakukan perjalanan seorang diri via Bali.

Bagaimana ceritanya Anda sampai ‘nyasar’ di Komodo (NTT)? Apakah Anda sudah agendakan sebelumnya?

Selepas meninggalnya mama, saya merasa hidup saya rapuh dan singkat. Saya ingin menikmati hidup, saya orang Indonesia dan saya harus kenal negara saya dengan baik.

Berkelana memang sudah aktif saya lalukan semenjak mengenyam pendidikan kuliah di Manado (Universitas Sam Ratulangi, Red), 18 tahun silam, dan tidak pernah satupun yang saya rencanakan dengan baik.

Menurut saya perjalanan itu harus muncul dari diri sendiri dulu, supaya kita siap mental dan setelah itu baru kita memilih lokasi mana yang akan kita kunjungi.

Bagaimana perasaan Anda ketika Anda sedang berada di alam terbuka Pulau Komodo?

Saya seperti orang jatuh cinta, tidak berhenti tersenyum dan mengangkat kedua belah tangan saya seolah ingin menggapai Tuhan dan berterimakasih karena Ia sudah menghadiahkan Pulau Komodo buat negara saya dan menghidupkan saya saat itu untuk menikmati setiap inci daerah itu.

Bagaimana kesan Anda terhadap masyarakat setempat ketika pertama kali jejakan kaki di ujung barat Pulau Flores ini?

Masyarakat yang sangat ramah. Saya sempat bergereja juga disana dengan penyambutan yang baik terhadap orang dari luar pulau, luar biasa baik.

Apakah Anda memiliki kesan negatif selama melakukan adventure di sana?

Tidak ada. Pengalaman negatif saya justeru terjadi sebelum mencapai Pulau Komodo, tepatnya di Bali, dimana teman-teman menyarankan saya untuk mencari agen perjalanan dari Bali menuju Komodo, dibandingkan lebih dulu mencapai Kupang baru menuju Komodo.

Luar biasa harga yang ditunjukkan kepada saya dari beberapa agen perjalanan wisata di daerah Sanur yang mencapai belasan juta rupiah. Ada yg tidak benar dalam pengelolaan biaya wisata itu menurut saya, karena hal itu sangat tidak masuk akal jika mau dibandingkan dengan biaya dari Jakarta ke Raja Ampat, misalnya.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk memesan tiket langsung penerbangan satu arah ke Labuanbajo tanpa tahu bagaimana akomodasi di sana dan berapa biayanya, toh saya sendiri.

Sesampainya disana, betapa kagetnya saya, ternyata semua rate kamar, biaya perjalanan liveaboard dan diving experience tidaklah semahal yang dibayangkan, semua masih masuk akal dan sesuai kantong PNS seperti saya.

Apa yang paling berkesan pada kunjungan Anda ke Pulau Komodo?

Hamparan bukit-bukit rumput coklat dan sedikit hijau mengesankan saya, dari seluruh tempat di Indonesia hanya di Gorontalo dan Townsville yang saya lihat ada kemiripannya. Namun kombinasi bukit-bukit di pulau-pulau yang terpisah dengan dihuni binatang buas hidup bebas? Belum ada tandingannya. Saya terlempar ke beberapa abad sebelum saat ini, dan yang ada di fantasi saya, saya mengharapkan melihat dinosaurus akan muncul dari balik bukit-bukit itu, hal itu yang bikin saya bersemangat tiap harinya disana.

Bagaimana tanggapan Anda tentang pengelolaan pariwisata di Indonesia, khususnya di Labuanbajo dan sekitarnya (Pulau Komodo)?

Harus ditingkatkan lagi kualitasnya, harga masih bisa dirasionalkan dengan tambahan pelayanan di bidang jasa.

Sebagai contoh, tujuan lokasi wisata harus dikelola oleh orang lokal, boleh ijin kepada orang asing diberikan namun lokal tetap harus punya akses masuk untuk menikmati.

Hotel atau jasa penginapan juga harus bersaing atau bekerja sama dengan jasa penyedia wisata seperti diving, hiking dan kegiatan di alam terbuka lainnya.

Memperbanyak armada penerbangan dan lapangan terbang yang memadai untuk pesawat berbadan lebar, sehingga dapat mengurangi jarak tempuh antar lokasi misalnya yang ditempuh selama belasan jam menuju Ruteng dari Labuan bajo dengan jalan darat.

Apa usulan Anda untuk perubahan pengelolaan pariwisata di NTT khususnya dan Indonesia umumnya?

Promosi wisata harus diubah orientasinya, dari mengundang wisatawan luar negeri menjadi obyek kunjungan wisatawan lokal seperti ke Bali misalnya.

Alam Timor extremely beautiful, namun peranan pengenalan yang salah dapat menurunkan minat wisatawan datang ke daerah ini. Undang biro perjalanan dari seluruh daerah Indonesia datang dan berpetualang ke Pulau Komodo dan biarkan mereka merasakan betapa bervariasinya obyek wosata alam di Timor, mulai dari petualang di gunung hingga ke pantainya.

Libatkan pihak swasta dalam pengelolaan kawasan wisata, biarkan administrasi dikelola pemerintah dan dalam perhitungan yang seimbang semoga kerjasama swasta-pemerintah dapat mensejahterakan obyek wisata dalam hal ini Komodo dan masyarakat sekitar yang harus mendapat imbas langsung dari majunya pengelolaan wisata didaerahnya.

Anda pernah studi di Australia, beri komparasi alam Australia dan Indonesia?

Australia memang memiliki alam yang hebat, seluruh dunia mengakui hal itu dan berbeda dengan wilayah dan negara-negara lain di benua belahan bumi utara. Namun Indonesia memiliki semua kehebatan alam yang dimiliki Australia dalam kapasitas maksimal. Hanya saja pengelolaan kita masih dibawah level memuaskan sehingga alih-alih memajukan justru menyengsarakan.

Bagaimana strategi pariwisata yang dilakukan oleh Pemerintah Australia dan sikap masysrakat terhadap lingkungan?

Di Australia, turis diundang sebanyak-banyaknya untuk masuk kawasan wisata, pemerintah dan swasta disana menerapkan tarif masuk yang reasonable untuk paket-paket tour dengan mempertimbangkan pengelolaan kawasan wisata yang tetap asri dan tidak mengubah bentuk awalnya.

Mereka benar-benar memperhatikan kenyamanan pengunjung, dengan membuatkan jalan-jalan setapak yang aman dan tidak harus bersinggungan antar pengunjung.

Mereka juga memiliki taman-taman untuk wisata keluarga di hari libur, dimana keluarga dapat dengan santainya menggelar tikar dan melakukan kegiatan barbekyu (BBQ). Kadang hanya dilakukan di pinggir sungai atau hutan, namun mereka sangat patuh terhadap kebersihan dan segala peraturan yang ada. Pemerintah juga menggaji polisi di kawasan wisata yang secara teratur akan berpatroli untuk mengawasi kebersihan dan keamanan lingkungan.

Terkait dgn issue lingkungan, apakah pariwisata Indonesia memperhatikan aspek sustainability ekosistem?

Belum sepenuhnya, beberapa daerah seperti di Manado dan di Jawa sudah memulai eco-tourism, keterlibatan masyarakat dalam menjaga alam yang menjadi unggulan wisata nasional. Tidak harus dalam bentuk eco-tourism, mungkin daerah-daerah lain seperti Ambon dapat menampilkan bentuk pengelolaan wisata lain seperti Sasi yang menjunjung tinggi kearifan lokal dalam mempromosikan wisata kedalam pengelolaan alam baharinya.

Dari Pulau Komodo, Anda melanjutkan perjalanan kemana?

Kupang adalah tujuan saya selepas Pulau Komodo, Saya banyak memiliki teman disana dan seumur hidup hanya mendengar cerita tentang Kupang.

Bagaimana perasaan Anda ketika berada di NTT, melihat alamnya tidak beda jauh dengan Queensland?

Saya melihat ada kemiripan dengan Townsville dalam bentuk tata kota, dimana banyak roundabout. (bundaran, Red) disana untuk perputaran kendaraan. Pohon kayu putih juga banyak saya jumpai disana dan udara yang sangat panas sama seperti jika kita pertama kali ada di Townsville, Australia.

Apa jenis kuliner khas NTT yang paling Anda sukai?

Saya hanya tahu tentang se’i gulungan daging babi panggang yang sudah tersohor seantero negeri.

Tahun 2010, seorang teman asal Kupang mengenalkan saya dengan se’i. Rasanya enak sekali. Dicampur dengan sambal yang pedas membuat selera makan bertambah. Selain se’i saya juga terkesan dengan sop dan sate babi.

Indah mana Cairns, Townsville, atau Komodo?

Jika saya harus memilih, itu haruslah antara Cairns dan Komodo. Townsville belum bisa berbicara banyak. Dan jika harus memilih di antara dua itu, dengan berat hati saya harus bilang Cairns. Dengan pengelolaan yang tepat, Komodo bisa lebih indah dari Cairns namun saat ini obyek wisata Cairns sangat memadai dan lengkap objek wisatanya.

Di akhir wawancara, Ary, pria yang bercanda akan melepaskan masa lajang setelah ia melihat Indonesia dalam full version ini,  mengisyaratkan akan kembali ke NTT tahun depan. Ia akan melakukan perjalanannya dari Ruteng ke Ende. Flores menunggu kedatanganmu, Ary.***

Aryan Obrien Siagian (Ary), alumni Program Master of Marine Biology, James Cook University, Australia, dan berstatus PNS pada Kementrian Kelautan & Perikanan RI (Sub Direktorat Pengawasan Jasa Kelautan dan Sumber Daya Non Hayati).

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *