Dalam Pelukan Hangat Inerie, Bena : Jejak Megalit di Tanah Flores

oleh
Kampung Tradisional Bena (Foto: Facebook.Com/Cumanulis)
Kampung Tradisional Bena (Foto: Facebook.Com/Cumanulis)

|KOEPANG.COM | Dalam Pelukan Hangat Inerie, Bena : Jejak Megalit di Tanah Flores. Menengok masa lalu Ngada, berkunjunglah ke kampung tradisional Bena. Tidak cukup menyusuri kota Bajawa untuk mendapatkan wujud asli Ngada masa lampau. Seperti kota kebanyakan di Nusantara, Bajawa pelan-pelan tergerus arus modernisasi.

Bena adalah wajah Ngada masa lalu. Keaslian masih tampak dari bangunan rumah penduduk dan perangkat budaya yang megah berdiri di halaman kampung serta tradisi yang berlangsung turun temurun. Simbol  kemegahan  warisan budaya Nusantara yang mengagumkan di tanah Flores – tepatnya di tana Ngadha. Berada dalam pelukan  Gunung Inerie (2245 m dpl). Ditetapkan menjadi kampung tradisional yang masih  meninggalkan jejak-jejak budaya megalit yang mengagumkan.

Kampung Bena merepresentasi kehidupan dan kebudayaan zaman batu yang tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun yang lalu. Terdapat 9 suku yang menghuni 45 unit rumah, yaitu: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago.

Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah. Setiap suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Rumah suku Bena sendiri berada di tengah-tengah. Karena suku Bena dianggap suku yang paling tua dan pendiri kampung. Karena itu kampung ini dinamai dengan nama Bena.

Dalam berkomunikasi sehari-hari, warga suku Bena menggunakan menggunakan bahasa Nga’dha. Mayoritas penduduk  memeluk agama Katolik dan tetap menjalakan kepercayaan leluhur termasuk adat dan tradisinya seperti reba dan lain-lain.

Dari kampung ini telah beranak-pinang keturunan yang menyebarkan di luar kampung Bena. Suku-suku di Bena menganut sistem kekerabatan matrilinear (garis keturunan ibu). Lelaki Bena yang menikah dengan wanita suku lain maka ia akan masuk ke klan istrinya. Wanita  Bena  wajib memiliki keahlian menenun dengan bermotifkan kuda dan gajah sebagai ciri khasnya.

Masyarakat suku-suku di  Bena, mereka memiliki kepercayaan tentang keberadaan  Gunung Inerie sebagai tempat bersemayam Dewa Zeta. Dewa pelindung masyakat suku-suku di Bena. Gunung Inerie dianggap sebagai hak mama (Ibu) dan Gunung Surulaki dianggap sebagai hak bapa (Ayah).

Tidak sulit menuju Bena. Berjarak 18 km dari kota Bajawa. Kota Bajawa sendiri berada di cekungan yang dipagari bukit-bukit perkasa. Cuacanya cukup dingin, sejuk, dan berbukit-bukit. Kadang berkabut tebal.

[irp posts=”699″ name=”Tour de Flores dan 9 Fakta Unik yang Harus Anda Ketahui”][irp posts=”81″ name=”Berada di Pulau Komodo Seperti Terlempar Beberapa Abad Lampau”][irp posts=”308″ name=”Bukit Cinta Wolor Pass” Lembata: Semua Sensasi Jenis Cinta Ada di Sini!”]Saat yang tepat mengunjung Kampung Bena pada saat musim panas. Sekitar bulan Juni hingga September. Sekali mendayung tiga pulau terlampau. Selain mengunjungi Bena, anda pun dapat mendaki puncak Inerie.  Dari puncaknya anda dapat melihat hamparan laut Sawu yang membiru dan kota Bajawa di Barat Laut.  Gunung Inerie pernah meletus (1882 dan 1970)dan kini meninggalkan jejak keindahan dan kemegahannya dengan tanah subur di sekelilingnya. *** (foto feature: skyscanner.co.id)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *