Batu Mistik dan Kisah Seribu Balatentara

oleh

KOEPANG.COM – Di kampung Namata terdapat halaman terbuka. Di situ terdapat beberapa batu besar berwarna hitam-kecoklatan. Bentuknya seperti buatan tangan manusia. Ternyata tidak! Mama Elisabeth menandaskan bahwa batu memang demikian bentuknya sejak awal.Batu-batu itu didatangkan oleh leluhur dengan kekuatan supranatural.

Area ini memang sakral bagi orang Namata. Terbalut nuansa mistis. Bapak David mengingatkan saya untuk tidak boleh bertanya tentang batu-batu tersebut. Saya hanya boleh tanya jika saya telah keluar dari area itu.

Mama Elisabeth turut menyampaikan pantangan lain. Saya tidak boleh foto di depan tiga jenis batu. Saya hanya boleh foto di batu yang paling depan dan ukuran paling besar.

Jadi, ada dua hal yang menjadi pantangan; tidak boleh bertanya dan tidak boleh foto di depan tiga jenis batu. Sayangnya, saya tidak sempat tanya akibatnya jika pengunjung melanggar larangan tersebut.

Setelah pemotretan, kami kembali ke halaman rumah. Saya pun mulai mengorek infornasi tentang batu itu dari mama Elisabeth.

Mama Elisabeth menjelaskan ada lima jenis batu, yaitu batu sahid, batu panglima perang, batu duduk deo rai (tua adat), batu peti ratu kaho, dan batu bheka pahi. Tiga jenis batu pertama sangat mistis. Pengunjung atau siapapun tidak boleh foto di dekat batu-batu tersebut. Sedangkan dua jenis batu lain tidak ada pantangan atau larangan.

Batu panglima perang punya kisah sendiri. Mama Elisabeth menceritakan kepada saya. Konon, ada peperangan antara orang Sumba dengan orang Ende. Perang tiada henti. Korban berjatuhan dari kedua bela pihak. Pemerintah (kerajaan) jaman itu tidak dapat meredam peperangan. Raja dan masyarakat Sumba jenuh dengan keadaan ini. Lalu raja Sumba meminta bala bantuan dari panglima perang Sabu.

Panglima perang menyanggupi permintaan raja Sumba. Maka berangkatlah sang panglima ke bumi sandlewood. Lama perjalanan ke Sumba sehari saja. Panglima berangkat malam hari, tiba pagi hari. Di tangannya, ia memegang sebuah cemeti. Cemeti itu diputar di atas kepala. Pasukan Ende melihat seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan ribuan balatentara Sumba. Pasukan Ende tidak mampu melanjutkan peperangan. Sejak itu peperangan antara Sumba dan Ende berakhir. Orang Sabu mendapat tempat (dihormati) di hati otang Sumba, demikian pun di hati kubu orang Ende.***