Pasca Pilkada di NTT, Tinggalkan Bara Politik Bak Api Dalam Sekam

oleh
Ilustrasi (Thetanjungpuratimes.com)
Ilustrasi (Thetanjungpuratimes.com)

| KOEPANG.COM | Pasca Pilkada di NTT, Tinggalkan Bara Politik Bak Api Dalam Sekam. Liburan Natal dan Tahun Baru mampu meredahkan suhu politik di Nusa Tenggara Timur. Padahal sembilan (9) kabupaten baru saja melangsungkan pesta demokrasi.

Di antara kabupaten tersebut sedang bermasalah dengan pesta lima tahunan ini. Buktinya, adanya gugatan pasangan-pasangan, yang katanya, ‘dicurangi’ dalam Pilkada. Manggarai, Manggarai Barat, dan Sumba Timur adalah kabupaten-kabupaten tersebut.

Pasca pesta demokrasi meninggalkan bara dalam sekam. Terasa panas, tapi kita tidak pernah melihat baranya. Hanyalah asap yang tampak di permukaan.

Pihak-pihak yang merasakan panasnya bara politik itu adalah kaum birokrat. PNS. Mereka yang terlibat secara langsung dalam politik praktis. Mendukung salah satu paket. Pihak yang berada di pihak yang menang akan aman-aman saja. Sedangkan pihak yang kalah akan terancam, terdesak, dan kehilangan jabatan atau ‘terbuang’ di ‘lahan’ gersang atau daerah terpencil.

PNS memang rentan dan terjebak dalam kubangan praktek politik karena berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab urusan kemaslatan orang banyak. Sehingga mereka mudah ditunggangi dan diperalat kandidat tertentu.

Kalaupun ada PNS yang berbelok karena berseberangan idealisme. Perbedaan pilihan juga karena alasan ikatan emosional, keluarga, suku, agama, dan ideologi politik.

Politik – baik Pilkada maupun Pilgub – menjadi daya magnet bagi birokrat terlibat di dalamnya. Karena hasil politik itu, seseorang dapat meraih jabatan atau ‘kedudukan’. Bukan rahasia lagi! Di antara sekian banyak PNS, terdapat pula kelompok idealis. Mereka yang tidak mau pusing peduli dengan politik. Memegang teguh prinsip netralitas seperti diamanatkan UU. Bahaya bagi mereka adalah ‘terabaikan’ karena dinilai tidak bekerja untuk pemimpin terpilih.

Orang yang bekerja memang layak mendapatkan upah atau ‘balas jasa’. Patut dicatat oleh para pemimpin terpilih, Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berkompeten dan memiliki leadership skills itu terbatas. Tidak semua orang PNS yang mendukungmu memiliki komptensi dan ketrampilan managerial yang memadai. Atau, sebaliknya, pihak (baca: PNS) yang kontra atau pun bersikap netral dalam sepanjang proses Pilkada/Pilgub bukan tanpa kompentensi dan kempimpinan yang memadai.

Belajarlah dari Ahok. Membuka ruang atau tempat bagi PNS untuk berkompetisi. Melalui seleksi formal. Bukan seleksi politis. Suka atau tidak suka. Pendukung atau bukan pendukung.

[irp posts=”327″ name=”Jokowi, Kosa Kata Baru dalam Kepemimpinan Nasional”][irp posts=”356″ name=”Ahok Gubernur ‘Waka’ Majikan yang Mampu Mengubah Wajah Jakarta”][irp posts=”50″ name=”Mesias, Nabi, dan Dosa Politik”]Jargon the right man on the right place bukan bumbu pemanis kampanye guna merebut simpatik rakyat. Harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tidak menjadi soal mereka yang terpilih adalah keluarga, kerabat, suku, agama, dan aliran politik. Asalkan mereka benar-benar berkualitas. Dari sisi kompetensi dan kepemimpinan.

Politik jangan membuat sistim birokrasi hilang arah dan menghasilkan birokrat berwajah ganda. Bermuka dua. Menggunakan segala cara untuk mengumpulkan upeti guna membalas jasa atas kedudukan yang diterima. Sementara kepentingan rakyat terabaikan. Staf menjadi sapi perah dengan segala argumen yang namanya ‘kebijakan’ atau ‘setoran’ kepada penguasa.

Sekali lagi belajarlah dari Ahok. Menjadi pemimpin yang jujur. Jika uang negara yang tidak habis terpakai, kembalikan kepada negara. Rupanya, Ahok benar-benar menghayati kalimat injil “Serahkanlah kepada Kaisar apa yang seharusnya diserahkan kepada Kaisar, dan serahkanlah kepada Allah apa yang seharusnya diserahkan kepada Allah.” Semoga para pemimpin sembilan kabupaten yang terpilih menghayati dan mengamalkan perikop injil ini.

Ya, menunuggu pelantikan para bupati/wakil bupati terpilih, bara politik bagaikan api dalam sekam. Semua (baca: PNS) menanti penuh cemas. Apakah mereka akan membawa perubahan atau hanya memanfaatkan kekuasan untuk membalas dendam? *** (Gambar Feature: Babelpos.co.id)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.