Bangun Bangsa Melalui Gerakan Bagi Buku

oleh
Bangun Bangsa Via Buku

Kediri, KOEPANG.COM – Membangun daerah tidak ditentukan oleh jarak. Membangun daerah dapat dilakukan darimana saja dan dengan cara apa saja. Hal inilah yang dilakukan oleh Yohanes Donbosco Lobo, guru Agama Katolik SMAN 3 Kediri Jawa Timur. Ia membangun daerahnya, Nusa Tenggara Timur, melalui Gerakan Katakan Dengan Buku.

Ide ini berawal dari perjalanan pulang ke kampung Palianaloka, Desa Legeriwu, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada. Ketika itu ia menghantar jenasah mertuanya. Ia sempat mampir di SDN Rutojawa, almamaternya.

John, demikian lelaki ini disapa, ia masuk ke ruang perpustakaan sekolah. Ia menemukan buku-buku usang bahkan buku-buku tersebut hanya meninggalkan sampulnya saja. Menyedihkan memang. Hatinya trenyuh. Sekembali ke Mojokerto, tempat tinggalnya, ia mulai memikirkan strategi untuk menyumbangkan buku ke sekolah-sekolah. John merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Tetapi, John terus bertanya dalam hati bagaimana caranya membantu? Pertanyaan tersebut terus mengiringi perjalanannya dari kampung halaman ke Mojokerto. John membutuhkan waktu 6 bulan untuk menemukan jawaban.

Ia mendapat jawaban ketika ia diperkenalkan dengan ONE HOPE Cabang Indonesia di Malang oleh bagian Pastoral Rumah Sakit, tempat istrinya bekerja. Sejak pertemuan itu John membangun komunikasi secara intens dengan pihak One Hope. Puji Tuhan, akhirnya, One Hope siap membantu menyumbangkan dan mendistribusikan buku-buku dengan syarat John harus mendapatkan jaringan atau orang-orang yang memiliki motivasi yang sama; membangun minat baca dan mendekatkan anak-anak dengan buku.

John tidak sulit untuk mendapatkan jaringan. Melalui media sosial (facebook, Red), John membangun jaringan. Jaringan terbentuk ketika ia dipercaya oleh Forum Komunikasi Masyarakat Ngada Diaspora (FKMND) sebagai Kepala Divisi Pendidikan. Dari situlah muncul keyakinan dalam dirinya bahwa ia harus membangun satu gerakan yang bertujuan untuk mencerdaskan putra-putri bangsa.

Saya pilih gerakan tersebut karena sesuai profesi saya sebagai seorang guru.

Tulis John melalui inbox akun Facebook-nya kepada Koepang.Com.

Gebrakan pertama, John mengirimkan buku seberat 6 ton ke SMAK St. Thomas Aquino Mataloko. Selanjutnya, John kirim 3 ton buku ke Biara SMM Ruteng (Pater Marsel Ngebu); 3 ton ke SMAN Aesesa Nagekeo (melalui Ever Longa Peo), Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Waibalun Larantuka 6 ton, SMAN Golewa 3 ton, Nando Watu dan Gonus Tonda (Ende) 3 ton, Melawi-Kalimantan Barat (daerah transmigran asal NTT) sebanyak 6 ton, Ibu Bernadetha Dhinu (TK Turekisa, Golewa) 3 ton, Anjelina Lalu (RSPD Ngada) 3 ton, Klemens Babo/Lembong (Mataloko) 3 ton, Hery Toly (Mataloko) 3 ton, dan Maria Stefania (Rote) 3 ton. Buku-buku tersebut selanjutnya didistribusikan ke sekolah-sekolah atau kelompok baca di wilayah sekitarnya.

Ketika ditanya tentang dukungan pemerintah daerah setempat terhadap gerakan ini, John secara gamblang mengakui masih minim dukungan. Tetapi justeru yang menarik di Ende, ada komunitas Wahana Visi Indonesia (WVI) yg didirikan oleh Nando Watu, Sipri Tiko, cs. Anak-anak muda ini tidak memiliki dana untuk biaya transportasi penyaluran buku-buku yang dikirim, mereka akhirnya menggandeng Pemda Ende melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kerjasama pun berjalan sukses.

Sedangkan di STP Waibalum Larantuka, rektornya mendistribusikan lewat mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Flores Timur termasuk daerah kepulauan seperti Adonara, Solor, dan Lembata.

Apa yang pemerintah tidak lakukan itulah peluang yang bisa saya atau kita kerjakan.

Tandas John kepada Koepang.Com dalam percakapan tengah malam via facebook.
John menegaskan Gerakan Kata Buku akan terus meluas ke seantero NTT. ***

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.