Bagaimana Kami Mau Bilang Indonesia Sudah Merdeka, Jika Kehidupan Kami Seperti Ini

oleh
Ilustrasi (Foto: Berdikarionline.Com)

| KOEPANG.COM | Bagaimana Kami Mau Bilang Indonesia Sudah Merdeka, Jika Kehidupan Kami Seperti Ini. Wakil Ketua DPRD NTT Gabrial Beri Bina dalam resesnya hari ke-2 di Kabupaten Alor melakukan kunjungan kedua ke Desa Lalafang, Kecamatan Pantar Timur. Pada kesempatan itu Beri Bina memberikan bantuan kepada 36 siswa SDN Tonte. Selain itu, ia membagikan pipa kepada masyarakat setempat.

Pantauan koresponden Kopeang.Com, Beri Bina didampinig Yusak Atamau, sekretaris desa Dolu dan beberapa tukang yang diutus oleh Kodim Jir Tangwal. Mereka berjalan kaki ke sumber mata air sejauh 2 kilometer. Bersama warga setempat bahu-membahu melakukan pesangan pipa.

Dalam dialog dengan warga, Beri Bina mengatakan masyarakat harus menjaga air. Karena air adalah sumber berkat dan sumber kebutuhan hidup. Disayangkan hingga saat ini, ada warga masih mengkonsumsi air dari batang pisang dan pohon arah. Ini masalah sosial dan harus secepatnya ditangani. Semoga bantuan ini dapat dinikmati lansung oleh masyarakat hari ini.

Pada puncak musim kemarau, cadangan air di bak penampung air hujan di sisi rumah mulai menipis. Air minum hanya ada dengan dua pilihan, berjalan kaki menjemput air menuruni setapak berkelok miring-terjal sejauh 1,5 km di dasar lembah. Atau, mereka mengambil air dari batang pohon pisang dan dari batang pepohonan yang oleh warga disebut pohon arah.

“Kami hidup seperti ini turun-temurun ini dan bantuan ini adalah berkat Tuhan untuk kami. “Ujar seorang warga kepada Koepang.Com.

“Kami mengambil air dari pisang mulai dari  jam 5 sore Sehari satu batang menghasilkan air 10 liter air. Kami minum air pisang tetapi wabah penyakit tidak menyerang kami. Kalau penyakit serang kami, pasti kami sudah mati. Nenek moyang juga hidup dari ini. “ tutur Sarce.

Pipa-pipa ini akan mengalirkan sumber air yang berada dari lembah. Dengan teknologi tepat guna, mesin hidra tanpa bahan bakar, air dialirkan ke bak penampungan di perkampungan yang letaknya pada ketinggian.

“Selama Indonesia merdeka bertahun-tahun, kami hidup dengan batang pisang dan pohon arah. Indonesia sudah merdeka, tetapi kami belum merdeka. Bagaimana kami mau bilang sudah mereka, sementara kehidupan kami seperti ini.” Tambah Sarce sambil menitikan air mata.

Kunjungan Beri Bina kali ini merupakan kunjungan kedua pada masa reses, setelah kunjungan pertama pada bulan Agustus silam. Pada kunjungan perdana, ia menyaksikan langsung masyarakat mengkonsumsi air dari batang pisang dan pohon arah.

“Saya lansung ambil langkah ini. Sungguh sayang, 70 tahun Indonesia merdeka, masih ada warga yang hidup dengan seperti ini.” Pungkas Beri Bina kepada Yohanis Atamai dari Koepang.Com.

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *