Asa Para Petani Rumput Laut di Sabu Raijua

oleh
Ilustrasi (Foto: Relawanmandiri.blogspot.com)
Ilustrasi (Foto: Relawanmandiri.blogspot.com)

| KOEPANG.COM | Asa Para Petani Rumput Laut di Sabu Raijua. (Seba, 4 Desember 2015) – Semalam Ama Tias berjanji akan mengajak jalan-jalan ke Tanjung. Tanjung, pantai pesisir utara pulau Sabu, biasa digunakan wisatawan asing bermain selancar.

Menurut Ama Tias, gelombang laut tinggi tidak terjadi setiap hari – kecuali ada arus yang memicu gulungan ombak menjadi tinggi. Umumnya wisatawan tahu kapan gelombang tinggi itu terjadi. Saat itulah mereka mengunjungi Sabu. Ia pernah mengantar tiga orang wisatawan ke sana. Dibonceng di motor secara bergantian.

Pagi harinya, saya bangun lebih awal. Dengan maksud kami berangkat ke tanjung lebih dini. Sayangnya, saban pagi Ama Tias menghantar anak-anaknya ke sekolah. Sambil menunggu Ama Tias, saya online sambil menyeruput kopi.

Kami baru bisa berangkat jam sepuluh. Suhu udara semakin panas. Tidak mematahkan niatku. Membungkus raga dengan ‘blue sweater’ JCU, kami meluncur ke arah timur. Menyusur jalan tanah dan bebatuan.

Di tengah jalan, pikiran Ama Tias berubah. Semula berencana ke Tanjung, beralih ke pantai dimana ada proyek pembangunan tambak garam.

Ama Tias memarkir motor di bawah naungan pohon lontar. Kami berjalan kaki sejauh 100 meter ke arah pantai. Kami tidak temukan tambak garam. Tanpa mengurungkan niat, kami terus melangkah ke bibir pantai.

Sejenak saya berteduh di bawah pondok nelayan yang juga berfungsi untuk ‘memarkir’ perahu motor. Di luar gubuk ada balai-balai yang digunakan untuk menjemur rumput laut.

Seorang nelayan tampak khusuk di bibir laut. Kami pun menghampirinya. Menyapanya. Ternyata ia sedang mengikat rumput laut pada seutas tali nilon. Tujuannya untuk budidaya rumput laut.

Rumput laut tampak hijau dan segar. Saya meraih dan memegangnya. Terus terang saya baru bisa melihat dan memegang rumput saat itu.

Menurut pengakuan sang petani, sebulan ia bisa memanen rumput laut sebanyak lebih dari 100 gram. Harga rumput laut kering Rp. 5000/kg. Jika sedang mujur, sekilo rumput laut kering seharga Rp. 15.000,-.

Petani rumput laut tidak bersusah payah memasarkan rumput laut. Pembeli datang langsung di tempat. Mereka berasal dari Sinjai atau wilayah lain di Sulawesi Selatan. Mungkin keadaan ini para petani kerap dipermainkan oleh para pembeli. Harga rumput bisa berubah-ubah. Turun naik sesuka hati para pembeli.

Kabar rencana pemerintah membuka pabrik rumput laut di Sabu Timur memberikan angin segar bagi para petani. Petani ini sangat berharap intervensi pemerintah secepatnya. Pernyataan sang petani yang saya wawancarai diamini oleh Ama Tias.

Setelah bercengkerama dengan petani rumput laut, kami melanjutkan mengukir jejak di pulau Sabu. Menuju tambak garam yang baru saja dibuka. Letaknya tidak jauh dari posisi kami. Karena mengikuti rute jalur jalan, jarak ke tambak garam menjadi lebih jauh. Tidak apalah, asalkan kami sampai tujuan. ***