Alde Antara Sabanah dan Eksotisme Pantai Tanjung Ile Ape

oleh
Alde (Foto: Facebook.Com/Ade)
Alde (Foto: Facebook.Com/Ade)

| KOEPANG.COM | Alde Antara Sabanah dan Eksotisme Pantai Tanjung Ile Ape. Apakah yang menyeruak dari benak anda ketika mendengar nama Pulau Lembata? Jagung titi? Ikan paus? Perasaan itu pula dialami Alde Komar, wanita berdarah Belu, yang menetap di kota Lewoleba ini.

“Yang ada di benak beta, Lembata hanyalah ikan paus. Tradisi penangkapan ikan paus di tengah laut. Tapi beta belum lia (lihat, red) langsung. ” Tutur Alde dengan dialek Kupang kepada Koepang.Com.

Mengisahkan Lembata tidak terpisahkan dengan ritual tradisi penangkapan ikan paus. Tradisi leluhur yang melahirkan pro dan kontra di jaman ini.  Di satu sisi, penangkapan ikan paus dapat mengancam kelestarian ikan paus dan ekosistem lainnya.

Di sisi lain, perburuan ikan paus merupakan aktivitas nelayan yang dilakukan secara tradisional demi keberlangsungan hidup masyarakat setempat. Alasan inilah, perburuan ikan laut tidak mendapat larangan dari dunia internasional.

Kekaguman Alde, demikian wanita yang memiliki hobi travelling ini biasa disapa, pada keindahan Lembata melalui aktivitas senggangnya untuk mengunjungi spot-spot wisata yang belum terjamah dan terekspose ke dunia luar.

“Lembata itu luar biasa. Alam sangat kaya. Hasil bumi seperti kemiri , jambu mente ,kopi, kakao melimpah ruah. Obyek-obyek wisatanya juga sangat banyak. Ada dapur alam di Watuwawer, Bukit Wolor Pass, Bukit  Emas di Kedang, Pantai Bean, Waijarang, belum lagi potensi lautnya.” Puji istri dari Frans Krowin ini.

Kepada Koepang.Com, Alde berbagi cerita liburan jalan-jalan bersama keluarga ke Tanjung Ile Ape.

“Kalau menurut beta keindahan di Tanjung itu merupakan satu dari sekian banyak keindahan yang ada di Lembata.”

Tanjung Ile Ape terletak di Kecamatan Ile Ape. Jaraknya sekitar 30 km dari jantung ibukota Kabupaten Lembata, Lewoleba. Menggapai Tanjung Ile Ape dapat melewati jalan Trans Lembata. Waktu tempuh sekitar 35 menit menggunakan kendaraan roda dua atau 30 menit menit dengan mobil.

“Jalan ke Tanjung belum semua diaspal. Jalannya berlubang-lubang, bahkan pada ruas jalan tertentu masih berupa jalan tanah.” Tutur ibu dari Juenna Ling Krowin ini.

Kondisi medan yang berat tidak memupuskan harapan Alde dan keluarga meneguk angin dan fajar di Tanjung Ile Ape.

Punggung tanjung ditumbuhi sabanah yang warnanya kuning keemasan bak bulir-bulir padi dan daunnya. Selain savanah, Tanjung Ile Ape ini dihiasi pohon bidara atau kom, lontar, reo, dan beringin. Tumbuhan khas daerah panas seperti Nusa Tenggara Timur ini.

Di bibir tanjung terdapat sebuah jeti yang biasa digunakan nelayan untuk menambatkan perahu motornya atau spead boat.

“Mau selfi  di Jeti Tanjung juga sangat indah pemandangannya. Kita juga bisa lihat  deretan gunung dan bukit di belakang Lewoleba, juga sedikit padang di Bukit Wolorpas. Hilir mudik perahu nelayan memburu ikan juga tampak di depan mata.”

Di seberang tanjung berdiri megah gunung Boleng yang memaku diri di atas pulau Adonara yang hanya terpisah oleh  selat.

Alde berkisah semenjak ia dan keluarga pindah di Lewoleba, ia mulai menjelajahi obyek-obyek wisata Lembata yang terbenam selama ini. Selain karena hobi travelling dan fotografi, Alde memang memiliki tekad untuk mempromosikan pariwisata melalui media sosial. Dari foto-fotonya ia banyak bercerita akan pesona Lembata.

Talalu (terlalu, red) banyak keindahan di Lembata. Mau masuk ke kawah gunung api pun bisa. Tapi itu yang beta belum sampai …hhhha…”Tutur istri Frans Krowin ini sambil bersenda gurau dengan awak Koepang.Com.

“Kami khan baru 2 tahun di sini. Keindahan di Lembta ini luar biasa, sayangnya, kurang dipromosi dan penataan.”

Ketika disentil Koepang.Com soal langkah kongkrit yang harus ditempuh pemerintah Lembata, Alde mengharapkan pemerintah harus menggiatkan kegiatan promosi.

“Untuk hal itu (promosi, red), semua komponen di Lembata harus bersatu, mulai dari bupati , wakil bupati, anggota DPR, juga masyarakatnya.” Tukas wanita yang berkacamata ini.

Pariwisata Lembata dapat berkembang, jika semua komponen bersatu dan saling bergandengan tangan.  Dengan demikian obyek wisata yang potensial tidak hanya sebatas nama.

“Jadi, menurut beta hal ini menjadi PR besar bagi pemerintah Lembata ke depan.” Pungkasnya.

Alde juga berharap Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur  melalui dinas pariwisata membuat even untk memperkenalkan Lembata. Saat ini Lembata bukan hanya punya Lamalera (penangkapan ikan paus, red) tetapi juga punya Bukit Doa, Tanjung, Kawah Gunung Ile Ape, juga alam bawah laut di Nuhanera.*** (gbm)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *