Wair Batik, Little Canyon Lela, Maumere, Sikka

oleh
Hermionewulohering.blogspot.com)
Hermionewulohering.blogspot.com)
Hermionewulohering.blogspot.com)

| KOEPANG.COM |  Wair Batik, Little Canyon Lela, Maumere, Sikka. Pernah mendengar Green Canyon yang berada di Pangandaran? Yaps, Green Canyon yang menjadi salah satu spot wisata di desa Pangandaran, Jawa Barat ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Selain menikmati pemandangan alam, wisatawanpun bisa beraktifitas yang sedikit memerlukan nyali, yaitu Body Rafting. Green Canyon atau dalam bahasa setempat Cukang Taneuh (Sunda) merupakan wisata air di mana di sisi kiri dan kanan dihiasi oleh lekukan batu-batu yang bergaris yang berukuran besar dengan debit air yang melimpah. Green Canyon akan berwarna cokelat jika dikunjungi saat musim penghujan. Batu-batu yang berlekuk dan bergaris ini menjadi salah satu ciri khas yang unik di tempat ini.

Pangandaran punya Green Canyon, Desa Lela juga punya Canyon namun dalam ukuran yang lebih kecil. Yah saya menyebutnya dengan Little Canyon-nya Lela, Maumere, Sikka. Warga Lela menyebutnya dengan Wair (Air) Batik.

Perjalanan dari Maumere ke Wair Batik bisa ditempuh selama satu jam, dan 20 menit dari Sanctuarium Wisung Fatima Lela (Baca : Sanctuarium Wisung Fatima Lela). Saya memilih untuk mendatangi Wair Batik di saat hari kerja, karena jika datang di hari libur sudah pasti sangat ramai dan saya tidak mempunyai waktu untuk bercengkrama dengan keseksian lekukan batuan bergaris di tempat ini.

Kupacu roda duaku “Red Delagoza” sambil memanjakan kuping dengan alunan Gemu Fa Mi Re menuju ke Wair Batik. Dari Sanctuarium Wisung Fatima Lela, terus menuju ke arah Rumah Sakit St. Eliabeth Lela, dan sekitar 15 menit belok ke kiri di pertigaan. Tak berhenti di situ, saya terus melanjutkan perjalanan menuju ke Wair Batik sekitar 10 menit dari pertigaan.

Perjalanan saya melewati Rumah Doa Wair Batik, dan sekitar 20 meter ada sebuah rumah di sebelah kanan jalan. Ketika berhenti saya langsung disapa hangat oleh seorang anak yang bernama Frans.

“Kaka, wair batik ko?”.

Spontan saya menjawab, “Iya nong”.

Frans menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke Wair Batik.

Dalam pemikiran saya, Wair Batik ada di pinggir jalan, ah ternyata saya salah. Wair Batik ada di dalam hutan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati kebun warga setempat.

Lama perjalanan kaki saya dengan Frans sekitar setengah jam. Selama perjalanan, Frans bercerita mengenai wisatawan yang sudah menjejakan kakinya di tempat ini.

Bukan hanya kebun yang dilewati, namun kami juga melewati sungai dengan debit air yang menurut saya sedikit. Saya bertanya kepada Frans apakah mereka pernah menangkap udang atau ikan di sungai ini? Katanya pernah tapi jarang. Di beberapa sudut sungai terlihat mata air yang dijadikan tempat untuk mengambil air bagi warga setempat untuk keperluan sehari-hari. Memang debit air sedikit namun juga musim hujan, debit air bisa melimpah dan kadang meluap.

Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, tibalah kami di Wair Batik. Perlahan-lahan kami melangkahkan kaki melewati air yang begitu segar seperti mengajak kami untuk mandi di tempat ini.

Kesegaran air ini membuat saya merasa lebih rileks. Kiri kanan Wair Batik dihiasi oleh lekukan bebatuan seksi yang bergaris sejajar dari ujung ke ujung. Di ujung Wair Batik ini ada sebuah batu besar yang ditutupi oleh batang pohon yang sepertinya tumbang dan menutupi jalur ini.

Panjang Wair Batik dari masuk hingga ke belakang sekitar 15 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Tinggi air di tempat ini hanya 30 cm. Karena tempat ini kecil, saya menamainya “Little Canyon Wair Batik”.

Coba lihatlah air yang saya abadikan dalam kamera saya. Air di tempat ini begitu jernih. Kalau kata Abdur Stand Up Comedy,”Air sungai/laut di Flores itu sangat jernih. Saking jernihnya ikan-ikan yang mau kawin jadi malu dan ga jadi”. Haha, iya benar. Air di Wair Batik ini memang sangat jernih dan bisa terlihat dengan jelas dasarnya.

Beberapa spot jadi favorite saya untuk mengabadikan keseksian tempat ini. Tempat ini saya rekomendasikan bagi pasangan-pasangan yang ingin foto prewedding. Tapi ada satu hal yang mengganggu kenyamanan saya di tempat ini. Sampah.

Ya sampah berserakan di mana-mana. Terlihat ada bungkusan baterai yang masih baru. Ah pengunjung seperti apakah ini. Hanya mau menikmati dan mengabadikan tempat ini tapi tidak tahu cara melestarikan lukisan Pencipta ini.

Hei saudara-saudaraku, alam ini tumbuh dalam keindahan. Silahkan nikmati keindahannya, namun jangan sampai mengotorinya dengan sampah yang kita bawa ya. Beratkah kita mengantongi kembali sampah-sampah yang kita hasilkan. Bisakan sampah-sampah plastik seperti bungkus baterai, baterai, bungkus makanan dan minuman, tissue, dan lain sebagainya dimasukan kembali ke tas dan dibuang pada tempat sampah? Jadilah pengunjung yang mencintai keindahan dan kebersihan di sekitar tempat wisata.

Tak lupa saya mengabadikan foto bersama dengan anak jagoan Frans sebagai rasa terima kasih saya. Pesan saya untuk Frans, jangan malu dan takut untuk menegur pengunjung yang buang sampah di tempat ini. Ini tempatmu, ini kekayaan alammu, tegurlah yang buang sampah di tempat ini.

Iya menyanggupi pesan saya, “Siap ka, laksanakan”.

Sebelum pulang, saya menyempatkan untuk membasahi tubuh saya dengan kesegaran air di tempat ini. Berrrrrr…suegerrrnya nampol.

Setelah bermain dengan kesegaran air di sini, kamipun memutuskan untuk kembali karena akan segera turun hujan. Terimakasih untuk nong Frans yang sudah mengantarkan saya ke Wair Batik. Terimakasih untuk Little Canyon Wair Batik dengan kesegaran airnya, dengan keelokan lekukan-lekukan seksi bebatuannya. Terimakasih untuk Allah Pencipta untuk menempatkan Wair Batik di Desa Lela ini.*** (Ooz Gobang)

Tentang Penulis: Giorgio Babo Moggi

Gambar Gravatar
Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pendapat atau pikiran tanpa terbelenggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *